Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Balikan

Hujan sudah menyisakan rintik-rintik. Sore pun sudah akan berganti senja. Beberapa mahasiswa yang sedari tadi berteduh sudah mulai bergegas meninggalkan kampus. Namun, saya masih tetap saja betah untuk berlama-lama di kantin kampus ini. Entah angin apa yang membawa saya untuk ke kampus hari  ini. Bagi mahasiswa yang tingkat kemalasan tinggi seperti saya ini, tentunya jam kuliah kosong selalu dimanfaatkan untuk bermalas-malasan. Tapi tidak dengan hari ini. Saya masih saja betah melihat mahasiswa berlalu lalang di pelataran kampus. Melihat ekspre si mereka seakan memberikan kesenangan tersendiri. Mulai dari ekspresi tertawa bahagia, raut wajah kelelahan karna kebanyakan belajar dan jadwal kuliah yang tak menentu hingga raut wajah muram yang sangat gak enak untuk dilihat. Ditengah-tengah kekhusyukan saya memperhatikan orang-orang disekitar, sampailah saya pada seseorang yang sangat mencuri perhatian. dengan melihatnya saja dunia saya serasa berhenti berputar. Pandangan saya seaka...

Juara Kedua

“Kita harus mengakhiri ini semua,” Singkat. Namun, sangat jelas mampu membuat hati saya seperti akan meledak. Sudah sangat jelas sekarang, semua yang saya lakukan akhirnya berakhir sia-sia. Hubungan yang diawali dengan diam-diam. Lalu, berlanjut dengan usaha untuk memenangkan hati orangtuanya dan berakhir dengan kabar perjodohan antara dia dengan lelaki pilihan orangtuanya. Hubungan yang berakhir dengan kekalahan telak bagi saya. Tiga bulan sudah berlalu sejak berakhirnya kisah cinta saya dengan perempuan yang tiga bulan lalu masih menjadi pacar saya itu. Akhirnya ia memilih pergi dan menyerah dengan keadaan. Pekanbaru hari ini seperti sedang romantis-romantisnya. Cuaca mendung dan sejuk sejak sore, lalu disusul gerimis dan saya pun terjebak sendirian dalam sebuah kafe yang isinya anak-anak muda yang sedang berpacaran. Dan, inilah yang saya lakukan sekarang. Meraih handphone dan membuka whatsapp. Mengecek beberapa pesan yang masuk dari grup keluarga dan kantor. Yang isinya...

Ketika Kukira Menjadi Mahasiswa Akhir itu Menyenangkan

Buat kalian yang mengikuti blog saya pastinya membaca beberapa postingan terakhir yang isinya cerpen-cerpen patah hati. Itu semua terinspirasi dari kisah teman-teman dan imajinasi saya sendiri kok. Tapi, setelah saya baca ulang malah saya geli sendiri. kok bisa sih nulis yang beginian, pengen dihapus aja rasanya. Tapi, yasudah lah daripada blog ini isinya kosong kayak hati kalian lebih baik dibiarin aja. Nah, dipostingan kali ini saya nggak akan ngeposting hal-hal yang berbau patah hati. Postingan kali ini lebih ke personal life sih sebenarnya. Jadi, nih ceritanya kemarin malam saya merenung, kenapa percintaan saya gagal melulu ? dan kenapa pernikahan Raisa-Hamish harus menjadi #HariPatahHatiNasional ? padahal mau mereka menikah atau enggak, hidup kalian juga tetap gitu-gitu aja. Tetap ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Dijadiin pelarian, chat panjang lebar dibalas HAHAHA doang. Pokoknya gitu-gitu aja deh.  Jadi kemarin saya merenung, kenapa skripsi saya nggak kelar-kela...

Jarak Jauh

Kata siapa pertemuan itu selalu menyenangkan, nyatanya dibalik sebuah pertemuan selalu ada hal yang menyakitkan. Ya, sebuah perpisahan. Siapapun tak pernah menginginkannya karena perpisahan akan selalu membutuhkan peratapan sebelum pada akhir kita mampu bangkit kembali. Saat itu, kelas 3, semester 2. Saya benci pelajaran tambahan dan saya benci jam pulang sekolah yang kelewat sore. Sore ini sepertinya Tuhan sedang menghukum saya karena kebencian saya terhadap aturan sekolah yang menambah jam pelajaran untuk menghadapi ujian nasional. Tadi pagi motor saya mendadak mogok, telat masuk di jam pelajaran pertama dan sekarang saya terjebak di halte depan sekolah sambil menunggu angkot yang tak juga lewat sejak sejam yang lalu. Semesta pun seolah menertawakan saya dengan menghadirkan cuaca mendung dan gerimis. Sepertinya sebentar lagi hujan deras akan turun. “hey, mau saya anterin ?” Satu suara mengagetkan saya. Saya diam. “sekarang udah hampir gelap lho. Udah mau hujan de...

Merelakan Melepaskan

Banyak yang bilang, tak ada yang lebih indah dari langit senja. Mungkin kalimat itu hanya berlaku bagi mereka yang belum merasakan jatuh cinta saja. Nyatanya, senyum seorang wanita yang sekarang berada dihadapan saya tak kalah indah dari langit senja. Meski saya melihatnya dibawah penerangan yang sederhana. Percayalah, wanita dihadapan saya ini sudah cantik meski tanpa polesan make up sekalipun. Namun, senyumnya hilang tergantikan mendung di wajahnya. Entah apa yang mengusik hatinya. Entah apa yang membuatnya harus mengeluarkan bulir mendung itu. ah, saya benci melihatnya menangis. “ada apa ? katakanlah,” “kita harus mengakhiri ini semua,” jawabnya sambil menangis. Lelucon macam apa lagi ini ? Setahun yang lalu ia sempat mengatakan hal yang sama untuk memberikan kejutan ulang tahun kepada saya. tapi, sekarang saya tidak sedang ulang tahun. Tidak dalam promosi kerja dan bahkan tidak dalam merayakan anniversary. “kalau kamu sedang bercanda, ini gak lucu,” “saya ...

Bertahan Namun Tak Ditahan

“kamu jangan pernah ninggalin saya,” Dulu, seseorang pernah mengatakan kalimat tersebut meski saya tak yakin dia ataukah saya yang akan bertahan pada hubungan ini. Satu kalimat yang menurut saya hanya untuk menenangkan atau meyakinkan seseorang agar tetap bertahan pada kekasihnya meski dalam kondisi apapun. Meski saya tak pernah mempercayai kalimat yang diucapkan oleh nya tapi dalam hati saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan tetap bertahan bersamanya. Dua tahun sudah saya menjalani hubungan dengan kekasih saya. dan, sudah dua tahun jugalah saya mendengar kalimat tersebut. tak banyak yang saya dan dia lalui selama kami berpacaran. Selama saya menjalani hubungan dengannya semua ini baik-baik saja. Sampai pada sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan ini sudah tak seperti dulu lagi. Sebuah kesalahpahaman kecil mampu menghancurkan hubungan yang sudah dijalin sejak lama meski saya sudah berulangkali mencoba untuk menjelaskannya. “ kamu masih marah sama saya ?” ...