Balikan
Hujan
sudah menyisakan rintik-rintik. Sore pun sudah akan berganti senja. Beberapa mahasiswa
yang sedari tadi berteduh sudah mulai bergegas meninggalkan kampus. Namun, saya masih tetap saja betah untuk berlama-lama di kantin
kampus ini. Entah angin apa yang membawa saya untuk ke kampus hari ini. Bagi mahasiswa yang tingkat kemalasan
tinggi seperti saya ini, tentunya jam kuliah kosong selalu dimanfaatkan untuk
bermalas-malasan. Tapi tidak dengan hari ini.
Saya
masih saja betah melihat mahasiswa berlalu lalang di pelataran kampus. Melihat ekspresi
mereka seakan memberikan kesenangan tersendiri. Mulai dari ekspresi tertawa
bahagia, raut wajah kelelahan karna kebanyakan belajar dan jadwal kuliah yang tak
menentu hingga raut wajah muram yang sangat gak enak untuk dilihat. Ditengah-tengah
kekhusyukan saya memperhatikan orang-orang disekitar, sampailah saya pada
seseorang yang sangat mencuri perhatian. dengan melihatnya saja dunia saya
serasa berhenti berputar. Pandangan saya seakan tak bisa teralihkan. Dan,
jantung saya selalu melaju lebih kencang dari biasanya. Perempuan yang beberapa
waktu belakangan sering mengganggu pikiran saya. Lalu, entah dari mana ide yang
gak masuk akal ini terlintas di kepala saya.
Saya
langsung saja mengeluarkan pulpen dan selembar kertas. lalu, menuliskan sesuatu
untuknya.
Dear
Ratna,
Sebelumnya
saya mau menjelaskan dulu kenapa malah mengirim surat bukannya ngajak ketemuan
dan ngomong langsung semuanya.
Karna menurut saya surat memiliki makna tersendiri dalam menyampaikan sesuatu. Selain itu, kamu juga udah pasti bisa menduga, saya terlalu takut untuk ngomong sama
kamu. Ketakutan aneh yang bahkan saya sendiri gak ngerti kenapa. Saya juga
terlalu kaku untuk mengungkapkan perasaan saya. saya cemen banget ya, Na.
Na, lucu
banget ya, di era digital seperti ini saya malah menulis surat untuk kamu. Padahal
kita semua tau kalau kita udah dimudahkan dengan yang namanya teknologi. Tapi,
Na kata Mang Sapri tukang parkir kampus kita, ngirim surat untuk pacar itu
suatu hal yang romantis. Awalnya saya gak meyakini apa yang dikatakan Mang
Sapri tapi akhirnya saya sadar mungkin surat memang suatu hal yang romantis
pada masanya. Lalu, saya juga sadar kalau kamu bukan pacar saya lagi.
Na, mungkin
saat ini saya udah terlambat dan mungkin ini udah gak ada arti apa-apa buat
kamu.
Kamu
ingat gak, Na udah berapa kali kita berantem ? mulai dari masalah yang sepele
sampai masalah rumit sekalipun. Sampai-sampai saya kesal sendiri dengan kamu
yang ngambekan. Nggak keitung kan, Na.
Pada
awalnya saya mengira semua akan baik-baik saja. Semua akan berubah dengan
berjalannya waktu. Saya kira kita bisa saling menyesuaikan dan memahami. Tapi ternyata
enggak. Seiring berjalannya waktu malah membuat kita semakin jauh.
Na, saya
kembali teringat dengan perkataan kamu pas kita pacaran dulu. Kamu bilang, cinta
itu gak rumit tapi kita nya aja yang membuatnya rumit. Entah kenapa kalimat itu
seringkali terngiang di kepala saya.
Menurut
saya kita ini dua orang yang saling mencintai tapi dengan kerumitannya
masing-masing. Saya capek dengan gengsi saya sendiri, capek dengan prasangka
saya tentang kamu, dan kamu juga mungkin sulit untuk menerima dunia saya.
Kita
terlalu sering berantem, diem-dieman, lalu pada akhirnya kita memutuskan untuk
mengakhiri semuanya. Dan, pada akhirnya menyesal.
Na, kalau
dulu saya sempat menyerah dengan hubungan kita, kali ini saya ingin
memperjuangkannya. Kamu juga dulu pernah bilang, cinta itu punya dua pilihan,
menunggu atau mendatangi. Dan, saya memilih untuk mendatangi kamu sekali lagi,
Na.
Dulu
saya selalu memilih untuk diam setiap kali dihadapkan dengan pilihan. Awalnya biasa
saja tapi pada akhirnya saya capek sendiri. saya capek disiksa cemburu setiap kali saya melihat
kamu dengan orang lain. Baiklah, Na mungkin ini terlalu memusingkan buat kamu. Saya
langsung ke poinnya aja ya.
Na,
saya sayang sama kamu. Banget. Kita balikan yuk.
Ditulis
dari hati dengan penuh cinta,
Lelakimu
Tak
berapa lama saya selesai menulis surat tersebut, seseorang menepuk pundak saya.
“Mas,
nggak pulang ? shift saya jagain
parkir Cuma sampe sore nih,”
“ohh,
iya. Ini juga udah mau balik, Mang Supri,”
Komentar
Posting Komentar