Juara Kedua
“Kita harus mengakhiri
ini semua,”
Singkat.
Namun, sangat jelas mampu membuat hati saya seperti akan meledak. Sudah sangat
jelas sekarang, semua yang saya lakukan akhirnya berakhir sia-sia. Hubungan
yang diawali dengan diam-diam. Lalu, berlanjut dengan usaha untuk memenangkan
hati orangtuanya dan berakhir dengan kabar perjodohan antara dia dengan lelaki
pilihan orangtuanya. Hubungan yang berakhir dengan kekalahan telak bagi saya.
Tiga
bulan sudah berlalu sejak berakhirnya kisah cinta saya dengan perempuan yang
tiga bulan lalu masih menjadi pacar saya itu. Akhirnya ia memilih pergi
dan menyerah dengan keadaan.
Pekanbaru hari ini seperti sedang romantis-romantisnya. Cuaca mendung dan sejuk sejak
sore, lalu disusul gerimis dan saya pun terjebak sendirian dalam sebuah kafe
yang isinya anak-anak muda yang sedang berpacaran. Dan, inilah yang saya lakukan
sekarang. Meraih handphone dan membuka whatsapp. Mengecek beberapa pesan yang
masuk dari grup keluarga dan kantor. Yang isinya sangat tidak penting semua.
Lalu,
sebuah pesan “hay, apa kabar ?” dari mantan pacar bersarang di pesan whatsapp
saya.
Semenit.
Dua menit. Saya berpikir kalimat apa yang pas untuk membalas pesan whatsapp
nya.
“Hai,
baik,” akhirnya jawab saya singkat tanpa bertanya balik padanya. Dalam kondisi patah
hati sekalipun saya masih berusaha sok baik-baik saja. Entahlah, saya hanya terlalu malas untuk meladeni pesan remeh temeh seperti ini yang ujungnya hanya akan membuat saya gagal untuk melupakannya.
“Saya lagi disekitaran
jl. Sudirman, kamu dimana ?”
Ah,
tentu saja hati saya merasa ingin meledak lagi kali ini. Apa dia sedang ingin
menghampiri saya ?
“Saya di kafe biasa
tempat kita ketemu,”
Tak berselang lama dia
pun langsung membalas pesan whatsapp saya.
“Baik, tunggu saya
disana,”
Dia
benar-benar ingin menghampiri saya. tapi, ada apa ? kenapa dia ingin menemui
saya ? apa yang membawanya ingin menemui saya ? ahh, entah lah lebih baik saya
menunggu saja.
***
Dan, disinilah saya sekarang. Bersama seorang perempuan yang sedang duduk di hadapan saya
dan sialnya dia masih tetap sama seperti sebelumnya. Cantik. Bahkan, malam ini jauh lebih cantik.
“Apa yang membawamu
kesini ?”
Entah kenapa saya
seakan menjadi orang yang tidak suka berbasa-basi.
Dia
hanya membalas dengan tertawa kecil. Dan, caranya tertawa pun masih menjadi
favorit saya.
“Kamu apa kabar ?”
“Nggak ada yang namanya
baik-baik aja setelah kamu pergi,”
Dia hanya balas
tersenyum. Lalu, diam dan hening diantara kami berdua.
Baiklah,
biarkan saya yang memulai semuanya. Perempuan selalu menginginkan lelaki yang
menjadi lebih aktif, bukan ? saya tidak peduli kalau ini akan terdengar norak atau bahkan memalukan. Saya hanya menginginkan dia kembali pada saya.
Setelah
ia selesai memesan minuman dan pelayan itu pergi, saya ingin mengatakan sesuatu
kepadanya.
“Jadi, begini
sayang…..,”
Sial!
Saya buru-buru meminta maaf. Sudah lah, sekarang memang bukan waktu yang tepat
untuk membahas perkara saya yang kelepasan dengan masih memanggilnya sayang.
“Oke, maaf…,”
“Jadi,
begini, jujur saja saya masih mencintai kamu dan saya tau kamu juga masih
mencintai saya. saya mau kita bersama. Berdua. Selamanya. Membangun masa depan
sama-sama. Kita mulai lagi semua ini dari awal. Kamu masa depan saya. nggak ada
lagi yang saya inginkan selain kamu.....,”
“Kamu tau, ada beberapa
hal yang nggak bisa dipaksakan,” potongnya.
“Tapi, ada hal yang
harus diperjuangkan,”
Dia kembali diam.
“Nal, kita Cuma perlu
menunggu waktu yang tepat,” saya kembali menatap lekat perempuan cantik yang
bernama Nala itu.
“…..katamu cinta itu
harus diraih dan sekarang saya mencoba untuk meraihnya,” lanjut saya.
“tapi cinta juga
tentang mencari dan menemukan,”
“dan saya udah
menemukan kamu,”
“sudahlah, Al.
seseorang yang kamu temukan itu sudah memilih jalan yang memang seharusnya ia jalani,”
“Bagaimana kalau yang
kamu jalani itu salah, Nal ?”
Dia kembali diam.
"Ayolah, Nal. Kita hanya perlu menunggu sebentar saja. Kita sudah sejauh ini,"
Sambill
menyesap minumannya, perempuan dihadapan saya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam
tas nya. Sebuah undangan berwarna biru yang bertuliskan namanya dan seseorang
yang akan menikahinya. Setelah memberikan undangan tersebut, ia pun pergi. Dan,
tepat saat kepergiannya sebuah lagu Tulus berkumandang dari pengeras suara di
sudut ruangan kafe ini.
Kita
sadar ingin bersama~
Tapi
tak bisa apa-apa~
previous story : https://friskabaizura.blogspot.co.id/2017/07/merelakan-melepaskan.html
Komentar
Posting Komentar