Bertahan Namun Tak Ditahan

“kamu jangan pernah ninggalin saya,”

Dulu, seseorang pernah mengatakan kalimat tersebut meski saya tak yakin dia ataukah saya yang akan bertahan pada hubungan ini. Satu kalimat yang menurut saya hanya untuk menenangkan atau meyakinkan seseorang agar tetap bertahan pada kekasihnya meski dalam kondisi apapun. Meski saya tak pernah mempercayai kalimat yang diucapkan oleh nya tapi dalam hati saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan tetap bertahan bersamanya.

Dua tahun sudah saya menjalani hubungan dengan kekasih saya. dan, sudah dua tahun jugalah saya mendengar kalimat tersebut. tak banyak yang saya dan dia lalui selama kami berpacaran. Selama saya menjalani hubungan dengannya semua ini baik-baik saja. Sampai pada sebuah kesalahpahaman yang membuat hubungan ini sudah tak seperti dulu lagi.

Sebuah kesalahpahaman kecil mampu menghancurkan hubungan yang sudah dijalin sejak lama meski saya sudah berulangkali mencoba untuk menjelaskannya.

kamu masih marah sama saya ?”

“enggak,”

“kamu udah maafin saya ?”

“sudah,”

“percayalah, saya dengan dia nggak ada apa-apa,”

“iya,”

Setelah kesalahpahaman itu tingkat kesabaran saya memang sangat diuji. Tidak ada yang namanya baik-baik saja pada hubungan saya saat ini.

“saya juga punya batas kesabaran kalo kamu perlu tau,”

“saya juga punya harga diri kalau kamu perlu diingatkan,”

Diujung telpon sana, ia seperti tak mau kalah dengan pernyataan yang saya katakan. Untuk kali ini, saya udah berada diujung batas kesabaran saya. dalam hal ini memang saya lah yang membuat semua kekacauan ini. Sudah berulangkali sebisa mungkin saya menahan emosi kepadanya. Menahan diri untuk tidak marah. Berusaha untuk memahami dirinya. Namun, emosinya masih saja tidak mereda. Sikap mengalah yang saya tunjukkan ternyata juga tak mampu untuk meredakan amarahnya kepada saya.

“apalagi yang harus saya lakukan untuk memperbaiki semuanya ?”

“saya nggak suka cewek pembohong!”

“oke, sekarang mau kamu apa ?”

Ia diam. Lalu menutup telponnya begitu saja. Untuk kesekian kalinya ia membiarkan masalah ini mengambang tanpa ada keinginan untuk menyelesaikannya. Ia memang telah memaafkan saya tapi sikapnya masih saja dingin dan jauh dari kata manis. Saya sudah menuruti semua keinginannya. memberikannya waktu untuk meredakan amarahnya tapi tetap saja semua itu tak memperbaiki keadaan.

Seminggu sudah berlalu sejak saya menanyakan apa mau nya kekasih saya itu. dan, seminggu sudah saya tak pernah menghubunginya. Dalam hubungan ini sepertinya hanya saya berjuang untuk mempertahankannya.

Mengenai pertanyaanmu minggu lalu, saya serahkan semua kelanjutan hubungan ini padamu.

Sebuah pesan singkat yang tentu saja mengagetkan saya. ini apa maksudnya ? hubungan ini bukan hanya milik saya. Lalu, kenapa sekarang ia menyerahkan semua ini kepada saya.

Dalam satu deringan ia langsung menjawab telpon saya.

“apa maksud sms kamu barusan ?”

“kelanjutan hubungan kita saya serahkan semuanya sama kamu,”

“apa maksudmu ?”

“apa perlu saya ulangi berkali-kali ?”

“ohh, sepertinya memang kamu udah nggak menginginkan hubungan ini. Baiklah, kita akhiri saja semua omong kosong ini,

“omong kosong ?!! kamu pikir semua ini omong kosong ?”

“lalu apa kalau bukan omong kosong ? sikapmu akhir-akhir ini yang membuat saya menyerah dan sepertinya Cuma saya yang berusaha untuk memperbaiki hubungan ini,”

Perjalanan panjang saya dalam mencintainya seperti telah menemukan titik akhir. tak banyak yang bisa saya lakukan saat ini selain mencoba untuk mengikhlaskan dengan sisa-sisa keihklasan. Dan, kini semua yang pernah saya lalui bersamanya hanya akan saya kenang sendiri.


*please read my previous post biar nyambung :)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus