Jarak Jauh

Kata siapa pertemuan itu selalu menyenangkan, nyatanya dibalik sebuah pertemuan selalu ada hal yang menyakitkan. Ya, sebuah perpisahan. Siapapun tak pernah menginginkannya karena perpisahan akan selalu membutuhkan peratapan sebelum pada akhir kita mampu bangkit kembali.

Saat itu, kelas 3, semester 2. Saya benci pelajaran tambahan dan saya benci jam pulang sekolah yang kelewat sore. Sore ini sepertinya Tuhan sedang menghukum saya karena kebencian saya terhadap aturan sekolah yang menambah jam pelajaran untuk menghadapi ujian nasional. Tadi pagi motor saya mendadak mogok, telat masuk di jam pelajaran pertama dan sekarang saya terjebak di halte depan sekolah sambil menunggu angkot yang tak juga lewat sejak sejam yang lalu. Semesta pun seolah menertawakan saya dengan menghadirkan cuaca mendung dan gerimis. Sepertinya sebentar lagi hujan deras akan turun.

“hey, mau saya anterin ?”

Satu suara mengagetkan saya.

Saya diam.

“sekarang udah hampir gelap lho. Udah mau hujan deras juga,” lanjutnya.

Saya masih saja diam. Berpikir.

“emang kita searah ?”

“udah naik dulu aja,”

Dan, sore itu, untuk pertama kalinya saya dibonceng oleh seorang lelaki.
***
Entahlah mengapa akhir-akhir ini saya sering sekali terlambat pergi ke sekolah. Dalam minggu ini saja, ini udah yang ketiga kalinya saya terlambat dan jam pelajaran pertama sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Kalau sudah telat begini, lebih baik bolos sekalian aja daripada harus menerima hukuman untuk kedua kalinya. Dan, ya kantin merupakan tempat paling favorit untuk bolos.

“nggak masuk kelas ?” satu suara menyapa dan sepertinya ini akan mengganggu waktu membolos saya di jam pelajaran pertama.

“akuntansi lagi nggak menarik,” jawab saya asal.

“jangan sering bolos. Nggak baik,”

“bolos sekali juga nggak bakal bikin tinggal kelas,”

“yaiyalah, kita kan kelas 3,” jawabnya sambil tertawa.

Setelah menghabiskan mie rebus dan teh es, saya pun beranjak dari tempat duduk untuk pergi meninggalkannya.

“eh, mau kemana ?”

“toilet, ikut ?”

“kalo kamu ijinin, sampe dalem juga pasti saya temanin,” jawabnya sambil tersenyum nakal.

Saya hanya bisa mendengus kesal meninggalkannya.
***
Saat ini lagi-lagi saya sudah berada di kantin. Parkiran motor siswa yang telah disulap menjadi kantin ini telah menjadi tempat favorit saya. kantin ini hanya memiliki satu meja panjang dan dua kursi panjang yang saling berhadapan. Jadi, tak akan ada banyak siswa yang sudi berlama-lama di kantin ini. Dan, satu lagi, kantin ini jauh dari ruang majelis guru. Namun, lagi-lagi kegiatan saya membolos di jam pelajaran diganggu.

“lagi bolos tapi malah belajar. Nggak konsisten banget sih,”

Kenapa lelaki ini selalu ada dimana saja ? saya memang sangat berterima kasih atas kebaikannya yang rela mengantarkan saya pulang seminggu yang lalu. Tapi, kalau dia juga bolos di jam pelajaran kali ini, kenapa dia harus berada di tempat ini juga sih. Sebelumnya tak ada yang pernah mengganggu saya di tempat ini.

“nggak ada batasan tempat untuk belajar,” jawab saya malas.

“baca buku apaan ? serius amat,”

“sejarah,”

“ceritain saya tentang sejarah Indonesia dong,”

“Indonesia merdeka pada tanggal 17 agustus 1945, ” jawab saya sekenanya.

“kalau di dunia ini ada 2 hal yang harus dipercayai, kamu percaya takdir atau kebetulan ?”

Baiklah, sepertinya ia pantang menyerah untuk mengajak saya berbicara. Dan, tidak ada salahnya sesekali meladeni orang untuk berbicara.

“takdir,” jawab saya singkat.

“alasannya ?”

“karna menurut saya di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan dan semua itu udah diatur oleh Tuhan,”

“lalu, apa menurutmu setiap pertemuan kita adalah sebuah takdir ?”

Saya terdiam. Ini apalagi maksudnya ?

“saya nggak tau entah ini sebuah takdir atau hanya kebetulan, tapi setelah mendengar alasan kamu saya merasa Tuhan sudah mengatur semua ini,”

“…..”

“saya pikir awalnya pertemuan kita itu Cuma sebuah kebetulan yang tanpa arti apa-apa tapi sepertinya nggak,”

“lalu ?”

Harus saya akui saya memang sering membolos di jam pelajaran tapi sejauh ini saya masih bisa memahami semua materi pembelajaran. Tapi, perkataan lelaki yang sedang berada dihadapan saya ini membuat saya membutuhkan kursus tambahan untuk memahami arah pembicaraannya.

“saya suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar saya ?”

Saya menyerahkan buku sejarah saya kepadanya.

“ini buku sejarah saya. saya kasi kamu waktu selama 2 hari untuk membacanya, lalu ceritakan kepada saya tentang sejarah Negara kita. kamu nggak perlu membaca semuanya yang penting kamu bisa menceritakannya kepada saya,”

“eh, ini saya ngajak pacaran lho bukan ngajak belajar kelompok,”

“saya nggak mau punya pacar yang nggak ngerti dengan sejarah bangsanya,” lalu saya berlalu meninggalkannya.

 Selang dua hari, saya dengannya resmi berpacaran. Dia menuruti semua perkataan saya dengan membaca buku sejarah dan menceritakannya. Bahkan, ia membaca semua isi buku tersebut. sebenarnya itu hanyalah akal-akalan saya saja untuk memberi waktu pada diri saya sendiri untuk menjawab permintaannya.
***
Ujian nasional telah berakhir sejak seminggu yang lalu dan perpisahan untuk para siswa kelas 3 juga sudah dilaksanakan. Dan, sekarang saatnya untuk para siswa menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Inilah sesuatu yang sangat saya benci. Perpisahan. Tak berapa lama lagi saya dengannya harus berpisah dengan jarak puluhan kilometer jauhnya.

“saya benci untuk mengatakan ini, sebentar lagi sepertinya kita akan berpisah,”

“iya,” jawabnya singkat.

“kamu jaga diri baik-baik disana yaa. Jaga kesehatan juga,”

“kamu juga. Dan, jangan lupa jaga hati kamu juga. Tunggu saya pulang,”

Dan, sebuah pelukan hangat menghantarkan perpisahan saya dengannya.
***
Sepertinya hubungan jarak jauh ini memang merepotkan. Bagaimana tidak, saya harus mempercayai perkataannya yang jauh disana yang saya sendiri kadang meragukan perkataannya. Banyak yang bilang agar hubungan jarak jauh ini tetap berjalan haruslah saling percaya, menjaga komunikasi dan menjaga komitmen yang telah disepakati. Namun, nyatanya ini semua terlalu sulit bagi saya begitupun dengannya.

Intensitas pertemuan yang berkurang semakin menyulitkan saya dalam menjalani hubungan ini. Permasalahan yang hanya bisa diselesaikan lewat telpon, kecemasan, dan rasa rindu seperti sudah menjadi teman baik buat saya. tak jarang pula banyak yang menyarankan saya untuk mengakhiri saja hubungan ini.

  Pertengkaran demi pertengkaran selalu terjadi. Masalah sepele yang hanya sebatas tidak menjawab telpon dan telat membalas pesan watsap sering kali menjadi pemicunya. Dan, entahlah saya mungkin memang sudah tidak sanggup lagi untuk menjalaninya.

Dibawah rintik hujan dan diiringi lagu Home milik Michael Buble saya menuliskan sesuatunya untuknya.

Sayang,
Saya tau kamu membenci ini semua. Sungguh, saat ini saya ingin menemuimu. Menggenggam tanganmu, membalas semua rindu dan menyelesaikan semua permasalahan kita. tapi lagi-lagi jarak ini sangat merepotkan. Dulu saya sempat mempercayai sebuah kalimat picisan yang sering kali dikatakan oleh mereka yang sedang dimabuk asmara, ‘jauh di mata dekat di hati’. Namun, saat ini kalimat tersebut seakan menjadi ‘jauh di mata namun jauh juga di hati’. Saya sepertinya sulit sekali memahami hatimu belakangan ini. Memahami segala kegiatan kampusmu  dan juga teman-teman barumu. Saya sadar kita sudah saling berusaha, namun sepertinya jarak dan waktu yang memenangkannya.
Kamu masih ingat kan, dulu saya pernah bilang bahwa di dunia ini nggak ada yang namanya kebetulan yang ada hanyalah takdir karna semua itu telah diatur oleh Tuhan. Mungkin semua tentang kita ini juga telah diatur olehNya. Saya tak akan lagi menyuruhmu membaca buku sejarah dan menceritakannya. Kali ini, saya hanya ingin menyuruhmu untuk berbahagialah disana meski saya tak disismu lagi. Terimakasih untuk semua cerita indah yang pernah kita lalu bersama.

Setelah membaca ulang apa yang telah saya buat, saya langsung menggeserkan kursor pada tombol send. Lalu, meraih handphone dan mengirimkannya pesan watsap.

“check email,”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus