On the Phone
Day 1
“Lagi ngapain?”
“Kaku banget”
“Okay, dalam sehari normalnya manusia itu berkedip berapa kali?”
“Bro -_-”
Lalu mereka tertawa bersama.
Day 2
“Arti nama kamu apa?”
“Nggak tau,”
“Kok bisa nggak tau?”
“Karna emang nggak tau,”
“Lah, beneran nggak tau ini?”
“Dikasih tau juga palingan besoknya aku lupa,”
Day 3
“Kok lama jawab telpon aku?”
“Iya tadi abis dari luar. Maaf yaa,”
“Dari mana emang malam-malam begini?”
“Cari cuan, Pak”
“Duh, mandiri banget”
“Nggak juga. Emang tuntutan hidup aja sih”
Pria yang di ujung telpon sana tertawa dengan jawaban yang diberikan Rania.
Day 7
“Abis dari luar lagi?”
“Iya”
“Ngapain?”
“Cari makan”
“Kamu sukanya apa?”
“Konteks?”
“Apa aja. Entah itu makanan, minuman, barang, apapun itu,”
Rania berpikir sejenak.
“Apa ya? Aku kalau ditanya tiba-tiba begini jadi nggak kepikiran.”
“Kamu suka telur gulung nggak?”
“Orang kayak kamu emang makan telor gulung juga?”
“Iya dong. Aku suka banget telor gulung. Sosis juga.”
“Bisa-bisanya kamu juga suka sosis,”
“Emang kamu nggak suka kedua makanan itu?”
“Kalau telur gulung sih aku masih suka tapi kalau sosis nggak dulu deh,”
“Kenapa?”
“Rasanya aneh”
“Dih, itu enak tau. Favorite aku tuh”
“Favorite aku kan kamu,”
“Rania jelek banget gombalnya”
Day 8
“Rania suka apa lagi selain telur gulung?”
“Nanya itu mulu deh”
“Buruan. Rania suka apa lagi?”
“Aku suka uang. Hehehehe”
“Uang Rania banyak ya?”
“Banyak. Kalau beli telur gulung bisa sekalian sama abang-abangnya”
“Hahahaha. Rania lucu”
Day 10
“Satya dari mana?”
“Maaf ya tadi aku dari swalayan,”
“Beli apaan?”
“Tadinya aku mau beli rokok tapi malah kebeli yang lain juga. Jadi kesel”
“Emang beli apaan sampai kesel gitu?”
“Aku tadi beli permen masa sebungkusnya 20 ribu. Mahal banget kan? Mana sedikit lagi isinya”
“Trus sekarang permen nya gimana?”
“Udah sisa sebiji,”
“Katanya kesel sama permennya tapi udah sisa sebiji aja,”
“Hahahaha. Aku kesel karna mahal banget. Permen doang padahal”
“Iya tapi kan permennya udah Satya abisin.”
“Ihh, sejak kapan jadi gemes gitu?”
“Gemes gimana?”
“Panggil aku pakai nama gitu kan aku jadi salting”
“Nggak boleh ya?”
“Boleh banget kok. Lagi dong”
“Nanti deh kalau permen kamu udah habis”
Day 15
“Halo?”
“Loh, udah tidur? Rania tidur?”
“Iya aku capek banget.”
“Yaudah. Selamat tidur ya, cantik.”
Day 20
“Satyaaaaaaa”
“Waduh, manggil nya kenceng banget. Apakah ini tanda bahaya?”
“Satyaaa”
“Iya, Rania”
“Aku besok ada seminar,”
“Terus kenapa? Kan tinggal duduk diam dengerin pematerinya”
“Ih, nggak gitu. Kali ini aku yang jadi pematerinya”
“Wah, keren dong.”
“Tapi aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Takut ngeblank karena ini pertama kalinya aku dipercaya untuk ngisi kegiatan beginian”
“Aku yakin kamu bisa”
“Ih, kamu mah,” Rania masih terus saja merengut.
“Kamu sukanya dikasih pujian atau malah diremehin?”
“Dikasih pujian lah”
“Aku yakin seminar Rania besok lancar. Rania nya besok pasti keren banget,”
“Satyaaaa kok malah jadi gulali”
“Gulali? Maksudnya?”
“Manis banget”
Hanya dibalas dengan kekehan oleh Satya.
Day 24
“Aku tau lagu ituuu,”
Rania samar-samar mendengar lagu yang sedang Satya putar.
“Sok tau,”
“Iya aku beneran tau”
“Lagu apaan coba?”
“I don’t love you dari MCR kan?”
“Kok Rania tau?”
“Iya tau dari abang. Mereka sering play lagu itu jadinya ikutan suka”
“Mau dengerin sesuatu nggak?”
“Apa?”
“Okay, wait”
Diam-diam Satya dari seberang sana mengambil gitarnya dan memainkannya sambil menyanyikan lagu yang barusan ditebak Rania.
“Satya kereeeenn!!”
“Pelan-pelan, Rania jangan teriak”
Aslinya Satya salting karena pujian Rania.
Day 27
“Maaf ya aku beneran nggak sadar kalau ada pesan dari kamu”
“Satya jahat. Satya jelek banget”
“Iya emang aku jelek banget. Rania yang paling cantik”
Rania dan Satya bertengkar untuk pertama kalinya perkara Satya lupa membalas pesan dari nya.
Day 28
“Ngambeknya udahan belum?”
“Belum.” jawab Rania singkat. Masih dalam mode merajuk nya dengan Satya.
“Ran, pernah lihat orang yang mukanya kelap-kelip nggak?”
“Emang ada?”
Rania dengan segala kepolosannya.
“Ada tau, Ran apalagi yang suka ngambek”
“Bodoh amat. Nggak peduli”
“Emang yang suka ngambek siapa?”
“Kamu lagi ledekin aku kan?”
“Loh, kamu suka ngambek? Bukannya Rania suka aku ya?”
Day 31
“Satya lagi apa?”
“Kaku banget.”
“Ih, Satya jelek. Balas dendam”
“Hahahah”
“Tadi aku beli sosis”
“Katanya nggak suka sosis, kok dibeli?”
“Kan beli doang. Nggak dimakan”
“Trus sosis nya gimana? Kasian dong dia nggak dimakan”
“Sosis nya nggak kenapa-napa tau. Dia kuat. Dia nggak nangis”
“Iyaa ya? Nggak kayak Rania”
“Emang aku kenapa?”
“Rania cengeng. Ngambekan juga”
Day 35
“Rania hari ini punya cerita apa?”
“Satya mau tau nggak?”
“Apa tuh?”
“Masa tadi kata temen kerja aku kalau kita tuh harus mandi 2 kali sehari walaupun di hari libur”
“Jadi Rania kalau hari libur nggak mandi?”
“Hehehehehe”
Satya hanya ikut terkekeh mendengar jawaban Rania.
Day 36
“Satya nggak mau cerita sesuatu?”
“Cerita Rania lebih seru,”
“Ih, kamu mah,”
“Tau nggak tadi siang aku makan apa?”
“Makan apa?”
“Makan makanan yang nggak kamu suka,”
“Hmm, sosis?”
“Iyaa”
“Trus sosis nya gimana?”
“Sosis nya kuat. Nggak nangis. Nggak kayak Rania,”
“Satya jahat. Satya jelek banget”
Day 37
“Rania mau tau nggak?”
“Apa?”
“Aku baru tau cara masak indomie,”
“Emang selama ini Satya nggak pernah masak indomie?”
“Pernah tapi nggak enak mulu”
“Trus yang ini enak?”
“Enak banget tau, Ran”
Day 39
“Ran, aku mau ngomong sesuatu”
“Ngomong apa?”
“Kita udah sering ngobrol di telpon. Kamu nggak pernah coba cari tau siapa aku?”
“Emang Satya siapa? Masih manusia normal kan?”
“Bukan gitu maksudnya”
Rania paham ke mana arah pembicaraan yang dimaksud Satya. Selama ini mereka hanya dua orang asing yang tak sengaja saling terhubung. Rania mengira Satya adalah mahasiswa nya yang ingin bimbingan skripsi sedangkan Satya mengira Rania adalah karyawan baru yang akan masuk ke kantornya. Ternyata mereka berdua salah orang. Dan, entah bagaimana awalnya mereka menjadi dekat tanpa sekalipun bertemu.
Bohong jika Rania tidak pernah sekalipun bertanya-tanya siapa Satya sebenarnya begitupun sebaliknya. Tapi, tak satupun di antara mereka ada yang berani memulai. Ketakutan Rania selama ini pun akhirnya muncul. Ia takut bahwa Satya lelaki yang sudah memiliki pasangan atau bahkan sudah memiliki anak. Tapi, Rania menolak untuk bertanya dan mencari tau karena kenyamanan yang diberikan Satya walau hanya lewat panggilan suara.
“Satya udah punya pasangan?” Rania coba menanyakan yang selama ini mengganjal di hatinya.
“Belum……” jawab Satya singkat.
Rania pun sedikit lega mendengarnya. Tapi kelegaan hati Rania tak berlangsung lama.
“Tapi akan” lanjut Satya.
Rania terdiam.
“Ran,”
“Iya, Satya aku salah”
“Enggak, Ran aku juga salah”
Panggilan mereka pun tiba-tiba terputus. Entah siapa yang duluan mengakhirinya.
Day 40
“Satya kenapa masih nelpon?”
“Rania kenapa masih jawab?”
Mereka berdua pun sama-sama diam.
“Who’s that lucky girl?”
“Ran, kamu nggak apa-apa?”
“Aku udah biasa, Satya”
“Ran, aku nggak bermaksud……”
“Satya, dipercakapan kita yang entah ke berapa, kamu pernah bilang kalau rasa kesepian itu jauh lebih membunuh daripada patah hati dari hubungan yang retak. Kamu berhasil mengalihkan aku dari rasa kesepian itu, Satya.”
“Tapi tetap aja ini nggak adil buat kamu, Rania”
“Nggak adil juga buat calon pasangan kamu, Satya”
“Aku minta maaf, Rania”
Day 45
“Kenapa masih nelpon?”
“Mau memastikan Rania baik-baik saja”
“Selalu lebih baik setelah Satya tanya”
“Ran, ketemuan mau nggak?”
Rania menghembuskan napasnya kasar.
Day 46
“Rania”
“Iya, Satya”
“Senang bisa kenal sama Rania”
“Aku juga. Senang bisa kenal sama Satya”
“Lusa aku menikah”
“Selamat”
Tak ada lagi yang bisa Rania ucapkan selain kata selamat. Hatinya sudah cukup berkecamuk belakangan ini. Satu sisi ia ingin Satya. Tapi, di sisi lain ia merasa bahwa dirinya jahat. Malam itu menjadi malam terakhir percakapan mereka. Satya akan memulai hidup baru dengan pasangannya dan Rania kembali ke kehidupannya sebelumnya. Rania yang gila kerja.
Komentar
Posting Komentar