Perkenalan
Aku
dan seorang temanku sedang berada di sebuah kafe. Setelah menghabiskan makanan
yang kami pesan, kami pun sibuk membuka laptop masing-masing. Temanku, Lisa
sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Sama seperti Lisa, aku juga sedang
mengerjakan tugas kuliahku sambil sesekali mengecek social media. Ya, aku salah
satu orang yang tak bisa lepas dari social media.
Sembari
Lisa sibuk dengan laptopnya, sesekali aku melihat situasi sekitar ruangan
tersebut. Ruangan tersebut sepi hanya ada aku, Lisa dan beberapa pengunjung
lainnya. Jauh di depanku, terdapat sebuah bar dimana para pramusaji sibuk
menyiapkan pesanan para pelanggan. Aku dan Lisa duduk di sudut ruangan kafe
tersebut sehingga pandanganku dapat melihat seluruh ruangan tersebut. Di meja
sebelahku ada seorang lelaki yang sibuk dengan gadget-nya. Dia seperti sedang
menunggu seseorang dan menghubunginya untuk segera datang. Beberapa kali aku
mencuri pandang kepadanya tetapi ia masih saja sibuk dengan gadget-nya sampai
pada akhirnya pandanganku dengannya bertemu untuk beberapa saat. Aku terdiam
dan kaget saat mengetahui dia juga menatapku dan aku langsung mengalihkan
pandanganku kearah laptopku yang sedari tadi sudah aku shut down. Aku pura-pura
sibuk dengan laptopku tetapi aku seperti merasa ada seseorang yang sedang
berjalan menghampiriku. Kupikir itu hanya perasaanku saja tetapi suara langkah
itu semakin dekat. Ah, aku baru ingat itu pasti Lisa karna tadi dia bilang
bahwa ia pergi ke toilet. Tetapi, saat aku mengangkat kepalaku ternyata yang
datang bukan Lisa. Aku tak menyangka lelaki itu menghampiriku. Apa dia marah
karna tadi aku sudah menatapnya ? atau dia tau kalau sedari awal dia datang ke
kafe ini aku sudah memperhatikannya ? ahh, entah apalah itu yang jelas saat
mengetahui dia menghampiriku aku deg-degan.
Dia
tersenyum kepadaku. Senyuman yang menurutku sangat manis dan pasti dikagumi
para wanita dan postur tubuhnya yang tinggi serta penampilan yang menurutku
kalian pasti suka menambah kesempurnaan fisik lelaki yang sedang berada di
hadapanku saat ini. Aku membalas senyumannya sambil berpikir kalimat apa yang
akan aku sampaikan kalau-kalau dia marah kepadaku.
“Maaf,
mbak ganggu. Boleh pinjam charger-nya bentar gak ? handphone saya mati saya mau
menghubungi mama saya.” Ah, kupikir dia datang akan marah-marah ternyata Cuma
mau pinjam charger. But, wait. Dia bilang mau menghubungi mamanya ? apa dia
cowok manja yang kemana-mana harus sama orangtuanya ? ah, bodoh amatlah yang
penting dia gak tau kalau dari tadi aku mencuri pandang kepadanya.
“Oh,
boleh, mas gapapa kok.” Kataku sambil menyerahkan charger handphone-ku yang
dari tadi tergeletak diatas meja.
Tak
berapa lama kemudian, dia mengembalikan charger tersebut sambil mengucapkan
terimakasih dan pastinya dengan senyum termanisnya. Kurasa saat ini aku mengaguminya.
Seminggu
setelah itu, seperti biasa saat tugas kuliahku sedang menumpuk aku mendatangi
kafe tersebut untuk sekedar refreshing walaupun dengan membawa tugas kuliah.
Aku merasa nyaman di kafe ini saat aku mulai bosan dengan kamar kost ku yang
itu-itu melulu hingga para karyawan kafe tersebut kenal denganku.
“Mbak
yang kemaren itu kan ?” Tiba-tiba sebuah suara memecahkan konsentrasiku dan
mengalihkan pandanganku dari laptop ke suara tersebut. Lelaki itu lagi. Lelaki
yang selama seminggu ini kuharapkan bertemu lagi sekarang ada dihadapanku.
“Eh,
iya.” Jawabku canggung.
“Sendirian
aja ? temannya yang kemaren mana ?”
“Iya,
lagi pengen sendiri aja.”
“Boleh
aku duduk disini ? meja yang lain penuh.” Tanyanya ragu sambil melirik bangku
kosong di hadapanku.
“Oh,
iya silahkan, gapapa.” Kataku sambil melihat sekeliling ruangan yang ternyata
ramai di penuhi pasangan muda-mudi yang sedang berpacaran.
Dia
duduk di bangku di depanku lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan. Aku
tak mendengar dengan jelas pesanan lelaki tersebut karna aku masih sibuk dengan
tugas kuliahku.
“Ngerjain
apaan, sih serius amat ? ganggu gak nih ?”
“Lagi
ngerjain tugas kuliah. Gak ganggu kok, udah mau selesai juga.” Bagaimana bisa
lelaki tampan ini menggangguku ? dia tidak mengganggu tapi dia memecahkan
konsentrasiku antara menatap layar laptop atau menatap wajahnya.
“Malam
mimggu begini ngerjain tugas kuliah ?” Tanyanya heran.
“Iya,
emangnya kenapa ?” Tanyaku sama herannya.
“Ya
gak kenapa-napa, sih Cuma aneh aja jarang banget gitu ada orang yang ngerjain
tugas di malam yang semua orang orang gunain untuk jalan-jalan, pacaran atau
yang apalah.”
“Kan
aku beda dari yang lain.” Jawabku sambil nyengir kepadanya.
Malam
ini menjadi malam minggu yang paling mengesankan karena sudah lama sekali aku
tak bercengkrama dengan seorang lelaki. Maksudku seoarang lelaki dengan status
selain teman ya walaupun dia bukan siapa-siapa bahkan orang yang baru aku kenal
malam ini. Ah, Rezky kau mengalihkan perhatianku malam ini. Iya, namanya Rezky.
Lelaki berkulit putih, tinggi dan senyuman yang sangat memikat.
“Oh,
iya boleh minta nomor handphone kamu ?”
Tanpa
diminta pun aku rela memberikannya, tetapi aku tak bisa
memberikan nomor handphone ku kepada sebarangan orang. Siapapun dia apalagi pada orang
yang baru dikenal. Dengan berat hati aku tidak memberikan nomor handphone ku kepadanya.
“Aku sering kesini jadi kalau nanti kita
ketemu lagi pasti aku kasi.”
“Yah,
gak asik dong. Kalo gak ketemu lagi gimana ?”
“kalau
jodoh pasti ketemu kok.” Ini adalah jawaban palingan bodoh yang pernah aku
sampaikan.
“Eh,
hmm….mak…maksud aku kalau kita ketemu lagi itu pasti kita jodoh. Bukan jodoh
yang gimana-gimana tapi maksud aku kita jodoh untuk jadi teman.” Aku langsung
buru-buru meralat perkataanku, tetapi tetap saja percuma karena Rezky udah
ketawa puas dengan perkataanku barusan.
“Hahaha.
Iya, iya aku paham kok maksud kamu.”
“Eh,
udah dong ketawanya aku malu tau.”
Sejak
malam itu pikiranku selalu dipenuhi tentangnya. Aku tak sabar ingin kembali
menemuinya. Kadang sesekali aku menyesal karena tidak memberikan nomor handphoneku kepadanya tapi ya mau bagaimana lagi itu udah menjadi keputusanku.
Ujian
semester semakin dekat, akhir-akhir ini aku sangat disibukkan dengan tugas-tugas
kuliah yang harus diselesaikan sebelum ujian dimulai. Berkali-kali aku mengurungkan
niatku untuk mengerjakan tugas kuliah di kafe biasa tempat aku dan Lisa
mengerjakan tugas kuliah karena kesibukan yang harus aku selesaikan. Sebenarnya
tujuanku kesana bukan sepenuhnya untuk mengerjakan tugas kuliah tetapi aku
ingin menemui Rezky meskipun aku tak yakin saat aku disana ada dia. Ah, Rezky
rasanya ingin sekali aku menemuimu.
Begitu
ujiau semester berakhir, aku langsung mengunjungi kafe dimana aku bertemu
dengan Rezky. Saat aku tiba disana hanya
ada aku dan beberapa pengunjung lainnya. Aku mencari spot tempat duduk ditempat
biasa, yaitu di ujung sudut ruangan kafe tersebut agar aku dapat melihat seisi
ruangan kafe tersebut dan dapat melihat dengan jelas pengunjung yang masuk ke
kafe tersebut. Sudah satu jam lamanya aku berada di kafe itu seorang diri
bahkan pesanan yang aku pesan pun sudah habis tetapi lelaki yang aku tunggu tak
juga datang. Aku sudah merasa sangat bosan tak ada lagi yang bisa aku kerjakan
untuk menghilangkan kebosananku. Meski kecewa, aku memutuskan untuk pulang
karena lelaki yang aku tunggu tak juga datang mungkin aku dan Rezky tak
ditakdirkan untuk bertemu kembali.
Tetapi
pada saat aku memasukkan laptopku ke dalam tas, aku dikejutkan dengan suara
seseorang yang sangat aku kenal meski aku belum lama mengenalnya. Ya, itu suara
Rezky. Suara lelaki yang sangat ingin aku temui sebulan belakangan ini.
Akhirnya aku dapat kembali menemuinya.
“Aku
baru datang kok udah mau balik aja ?” sapanya sambil mempersilahkan dirinya
sendiri untuk duduk di kursi di hadapanku.
“Kamu
nya ditungguin lama banget.” Jawabku cemberut dengan gaya yang dibuat-buat.
“Jadi
kamu kesini nungguin aku ?”
“Haa,
hmm…… enggak juga sebenarnya emang lagi pengen kesini aja” Jawabku terbata-bata
sambil menundukkan kepalaku untuk menutupi rasa malu dan rona bahagia di
wajahku.
Akhirnya
aku mengurungkan niatku untuk pulang karena lelaki yang aku tunggu sekarang
sudah duduk dihadapanku.
“Jadi
sekarang aku udah boleh minta nomor handphone kamu, dong ?” Rezky memecahkan keheningan
saat kami kehabisan topik untuk dibicarakan sambil memamerkan senyumnya yang
menggoda kepadaku yang aku balas dengan anggukan.
Komentar
Posting Komentar