Sore di Pekanbaru
Untuk kesekian kalinya
saya mengecek jarum jam di tangan. Pekanbaru memang sedang buruk sekali sore
ini. Hujan deras dan saya terjebak di sebuah halte busway. Setelah ini, akan
ada keterlambatan yang saya lakukan untuk kesekian kalinya.
“Kamu tau kenapa saya
lebih memilih berteduh di halte ini sedang banyak tempat lain yang bisa
dijadikan tempat berteduh ?” sebuah suara mengagetkan ditengah derasnya hujan.
Siapa pula yang peduli kau harus berteduh dimana. Cukup malas memang meladeni
orang ditengah suasana yang seperti ini. Tapi demi menghargai usaha seseorang untuk bertegur sapa ya mau tidak mau saya meladeninya.
Saya mengangkat bahu
dan menggeleng mengisyaratkan bahwa saya tidak tau.
“Karna ada seseorang
yang harus saya temani,” lanjutnya.
Hey, siapa bilang saya
butuh ditemani. Ingin rasanya dia segera enyah dari hadapan saya.
“kalau kata orang nih,
tak kenal maka tak sayang,”
“Kita udah saling
kenal,”
“Nah, itu akhirnya
ngomong,”
Bagaimana mungkin saya
gak kenal dengan seseorang yang beberapa bulan belakangan selalu bikin saya gak
karuan. Buat saya bertanya-tanya tentang dirinya. Senyumnya yang menurut saya
bahkan lebih indah dari langit senja. Semua itu mungkin terdengar berlebihan
bagi kalian yang membacanya tapi tak pernah ada yang berlebihan untuk seseorang
yang sedang jatuh cinta.
“Kamu tau gak kalau
hujan itu bisa mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang kurang penting ?”
Sekali lagi saya
menjawabnya dengan menggeleng mengisyaratkan jawaban yang tidak tau.
“Kayak yang kamu
lakukan sekarang ini. Dari tadi kamu Cuma membolak-balikkan menu di handphone
kamu,”
“Lalu hal kurang penting apa lagi yang sering
orang-orang lakukan ketika hujan ?” saya mulai mematikan handphone dan
menyimpannya.
Ia diam berpikir.
“hmm, apa ya ? ngecek
social media dan stalking beberapa akun misalnya,”
“handphone udah saya
simpan dari tadi lho,”
Dia tertawa.
“eh, kamu mau kemana ?”
Lalu tiba-tiba
handphone nya berbunyi dan dengan segera ia menjawab telpon nya.
“Iya, sayang aku segera
kesana,”
Ia lalu berpamitan dan
pergi tepat saat busway berhenti di halte tempat kami berteduh. Barangkali
mengobrol dengan saya salah satu hal kurang penting saat hujan.
Komentar
Posting Komentar