Mencintai Dalam Diam

Hari itu, hari dimana pertama kalinya aku menyandang status sebagai mahasiswi. Rangkaian kegiatan ospek di hari pertama sudah cukup membuatku sangat jenuh. Mendengar celotehan para senior dan instruksi-instruksi menyebalkan dari mereka. Tetapi, di tengah kejenuhan itu, aku menemukan sosokmu. Seorang lelaki berkulit putih dan berkumis tipis. Saat itu kau berdiri di pojok kanan, satu barisan lebih depan dariku. Kau terlihat sama jenuhnya denganku. Ternyata bukan hanya aku yang jenuh dengan kegiatan yang sangat membosankan ini.
Sejak aku menemukan sosokmu, aku tak hentinya memandangmu dari kejauhan, memperhatikan tingkah lakumu dan caramu berkenalan dengan orang-orang di sekitarmu. Hari berikutnya aku menjadi lebih bersemangat untuk menjalani kegiatan ospek karena melalui kegiatan ini aku kembali dapat melihat sosokmu dan memperhatikanmu dari kejauhan.
Pada hari terakhir kegiatan ospek, aku berharap kegiatan ini bisa berlangsung lebih lama agar aku dapat melihatmu juga lebih lama. Ada kecemasan dalam diriku yang aku sendiri tak mengerti dengan kecemasan yang aku rasakan. Tetapi, aku sedikit lega karena ternyata kita kuliah di program studi yang sama.
Hari pertama perkuliahan dimulai, aku kembali mencari sosokmu. Aku berharap kembali dapat menemuimu meski tak akan ada satu kalimat pun yang akan aku katakan saat melihatmu. Hari itu aku tak hanya mencarimu tetapi aku juga mencari kelas dimana perkuliahan pertamaku dimulai dan siapa yang akan menjadi teman baruku. Kau tau betapa bahagianya aku hari itu ? aku sangat bahagia karena ternyata kita sekelas. Hari itu aku mengetahui siapa namamu, daerah asalmu dan aku dapat melihatmu lebih dekat dari hari-hari sebelumnya.
Perkuliahan menjadi tak semembosankan yang aku bayangkan. Kau memberiku alasan untuk semangat setiap harinya meski kau tak pernah melakukan apapun tapi sosokmu saja telah memberikan semangat itu secara tidak langsung. Sejak saat itu, tanpa aku sadari aku telah menyukaimu bahkan aku mencintaimu dengan diam dan dalam.
Mencintaimu dalam diam itu tak mudah tapi kadang juga menyenangkan. Aku sadar aku telah salah dari awal. Tak seharusnya aku membiarkan rasa ini semakin berkelanjutan tapi kau terlalu memikat untuk tidak mencintaimu. Di hari-hari yang aku lalui, tak pernah sehari pun aku tak memikirkanmu. Aku berusaha menjauhkanmu dari pikiranku tapi kurasa percuma karena usahaku selalu saja sia-sia.
Perkuliahan semakin memasuki semester akhir, aku tak ingin ini berlalu tanpa sekalipun kau mengetahui hal penting yang telah lama kusimpan rapi. Tapi, bagaimana aku mengatakannnya ? bahkan aku terlalu pengecut untuk sekedar mengungkapkan isi hati yang tak perlu mendapatkan balasan.

Hingga diujung perpisahan kita, kau masih menjadi sosok yang aku cintai bahkan tak seorangpun mengira bahwa hari-hariku dipenuhi dengan pikiran tentangmu. Akulah orang yang mencintaimu dengan sangat dan tanpa keberanian. 
friska baizura, 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus