Finished Love
Ujian
Nasional sedang berlangsung dan hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan
ujian. Jauh sebelum pelaksanaan Ujian Nasional dimulai aku sangat bersemangat
menantikan ujian tersebut karena aku sudah tidak sabar untuk menyandang status
sebagai mahasiswa. Tapi, entah kenapa pada saat itu tiba aku sangat berharap
waktu bisa berputar lebih lambat karena aku merasa ingin lebih lama lagi di
sekolah ini, aku masih belum ingin untuk berpisah dengan teman-temanku, dan aku
juga tak ingin berpisah dengan Jery, sosok yang setahun belakangan ini selalu
mengganggu pikiranku. Dia adalah teman sekelasku. Aku menyebutnya lelaki dengan
senyum gingsul.
Aku
tak tau bagaimana awalnya aku bisa menyukainya perasaanku seolah mengalir
begitu saja. Pada awalnya aku tak pernah menghiraukan bahkan memperhatikannya
sampai pada saat Nia, salah satu temanku berkata bahwa ia menyukaiku. Aku tak
mempercayai perkataannya terlebih lagi tak sedikit perempuan yang mengaguminya.
Tetapi, Nia, temanku tetap yakin bahwa Jery menyukaiku yang terlihat dari
tatapan matanya saat dia sedang memperhatikanku. Nia juga mengatakan bahwa ia
tak sekali saja menangkap pandangan Jery yang sedang memperhatikanku tetapi
berulang kali. Sejak saat itu, aku ingin membuktikan perkataan Nia. Aku mulai
memperhatikanmu dengan diam. Memperhatikan tingkah lakumu, kebiasaanmu saat di
dalam kelas, dan aku juga mencari-cari informasi tentang dirimu. Aku mulai
mempercayai perkataan Nia karena sudah beberapa kali aku mendapati kau sedang
mencuri-curi pandang denganku meskipun aku tidak yakin karena menurutku
seseorang yang mencuri-curi pandang dengan orang lain itu bukan berarti suka
atau mengagumi.
Pada
saat ujian terakhir selesai aku tak memilih untuk langsung pulang kerumah. Seperti
yang kukatakan sebelumnya, aku masih ingin lebih lama di sekolah ini dan aku
tak ingin berpisah denganmu dan juga kenangan kita. Tetapi, tak ada yang bisa
kulakukan di sekolah ini yang terlihat sudah sangat sepi karena sebagian warga
sekolah sudah pulang bahkan Bude penjaga kantin juga langsung menutup kantinnya
begitu aku selesai makan Indomie goreng pesananku.
Aku
berjalan menuju parkiran dengan langkah gontai. Hari dimana aku tak lagi
melihat senyum gingsulmu akan dimulai. Berulang kali aku ingin mengatakan
perasaan yang aku pendam selama ini kepadamu tapi aku terlalu takut untuk
mengatakannya meskipun Nia selalu menyemangatiku dengan mengatakan bahwa tidak
ada salahnya jika seorang perempuan yang mengatakan perasaannya lebih dulu
kepadamu. Setibanya di parkiran hanya terdapat dua motor yang terparkir disana.
Aku sangat mengenali motor yang terparkir disebelah motorku. Mio berwarna
abu-abu itu merupakan motormu tapi aku tak melihat sosokmu. Tetapi, saat aku
ingin menyalakan motorku aku melihat sosokmu dari kejauhan yang sedang berjalan
menuju kearahku dan sepertinya kau juga ingin pulang. Aku memperlambat
gerakanku. Aku berharap bisa mengobrol denganmu sebelum kita berpisah meski
hanya sebentar.
“Eh,
Fenti belum pulang juga ?” Kau menanyakanku sambil memamerkan senyummu.
“Belum,
ini juga mau pulang. Abis ngapain ? kok pulangnya lama ?”
“Itu
tadi abis ketemu sama buk Evan konsultasi masalah perkuliahan. Kamu sendiri
ngapain ?”
“Kamu
beneran bakalan kuliah di Semarang ?” Aku tak menjawab pertanyaannya karena dia
alasan kenapa aku masih juga belum pulang.
“Iya,
Alhamdulillah aku lulus disana tanpa tes. Doain kuliah aku lancar ya.” Jawabmu
sambil tersenyum.
“Iya
pastilah aku doain.” Jawabku getir.
“Kamu
sendiri bakalan kuliah dimana ?”
“Aku
kayaknya di Pekanbaru aja karena orang tua aku gak ngijinin buat kuliah
jauh-jauh.”
“Ohh,
yaudah kamu semangat ya jangan lupa belajar untuk ujian SNMPTN.”
Sejak
hari itu aku tak lagi menjumpaimu dan aku terlalu takut untuk menghubungimu
lebih dulu walau sekedar menanyakan kabar tentangmu. Hari-hariku mulai disibukkan
dengan mengikuti bimbel, Try Out, dan persiapan-persiapan SNMPTN lainnya.
Empat
tahun sudah berlalu sejak pertemuan terakhir kita di parkiran sekolah dan aku
masih mengingat dengan jelas kenangan itu. Aku diterima di salah satu Perguruan
Tinggi swasta di Pekanbaru dan aku akan melaksanakan wisuda bulan depan. Dua
hari yang lalu Nia menghubungiku, dia mengatakan bahwa minggu depan akan ada
reuni sekolah dari seluruh angkatan. Dia memaksaku untuk datang ke acara
tersebut dan dia juga mengatakan bahwa kau mungkin juga hadir di acara tersebut.
Kalau bukan karena paksaan Nia dan keinginanku untuk bertemu lagi denganmu, aku
tak ingin mengahadiri acara tersebut terlebih lagi aku tak siap dengan
pertanyaan teman-temanku yang sudah lebih dulu memiliki pasangan dan perkerjaan
tetap dengan statusku yang masih saja sebagai seorang calon sarjana dan belum
memiliki perkerjaan.
Reuni
dilaksanakan di ballroom salah satu hotel di kotaku. Acara dimulai dengan ramah
tamah alumni, sambutan, hiburan, penyerahan bantuan hingga photo session. Dari
awal acara dimulai, aku tak bisa menahan diriku untuk tak mencarimu.
Pandanganku selalu melihat pada seisi ruangan, mencari sosokmu hingga aku tak
begitu focus dengan rangakaian acara reuni tersebut.
Aku
mulai jenuh dengan kehebohan acara ini. Aku keluar dari Ballroom hotel tersebut dan
mencari sebuah tempat yang sedikit tenang untuk sekedar mencari udara segar. Aku
berjalan menuju lantai teratas hotel tersebut. Disana terdapat sebuah kolam
berenang dengan pemandangan yang indah. Di sudut kolam tersebut terdapat sebuah
ayunan besi dan aku melihat seseorang yang sepertinya kukenal sedang duduk
disana sambil sibuk memainkan smartphone yang ada di tangannya. Aku berjalan
menghampirinya sambil memperhatikan lelaki itu begitu aku sampai di hadapannya,
ternyata lelaki itu ialah Jery seseorang yang sedari tadi sangat ingin aku
temui.
“Jery,
ya ?” Kataku tak percaya sambil mencoba memastikan bahwa itu benar dia.
Dia
mengalihkan pandangannya dari smartphone nya dan menatapku.
“Ternyata
kamu datang juga dari tadi dicariin gak ketemu.”
Dia
masih saja seperti yang dulu. Selalu santai dan apa adanya. Penampilannya malam
ini pun sangat sederhana dengan menggunakan kemeja berwarna coklat dengan
bagian lengannya yang dilipat hingga ke siku dan celana jeans.
“Kamu
nyariin aku ?” Aku heran dengan perkataannya barusan karena kalau memang benar
dia juga mencariku berarti maksud kedatangan kami ke acara ini tak lain adalah
untuk saling bertemu.
Jery
tak menjawab pertanyaanku dia hanya membalas pertanyaanku dengan senyum
gingsulnya. Senyum yang selama ini aku rindukan. Tak banyak yang kami lakukan
pada waktu itu selain bercanda, bercerita tentang kesibukan masing-masing dan
mengingat-ingat kembali masa-masa sekolah dulu. Lalu, tiba-tiba saja Jery
memasang muka serius seperti ada hal yang sangat penting yang ingin
disampaikannya.
“Aku
sayang sama kamu, Fenti.” Dengan tegas dan serius Jery mengatakan kalimat
tersebut.
Aku
hanya bisa terdiam dan bingung. Tapi aku juga tersenyum mendengar kalimatnya lalu aku kembali bingung dengan pernyataannya. Seolah
ada jawaban dari sebuah penantian yang selama ini aku nantikan.
“Dulu
pas kita sekolah aku sempat dengar kalau Nia bilang aku suka sama kamu, jauh
sebelum itu aku udah suka sama kamu, Fenti.” Dia menatapku dengan sangat serius
dan dalam.
“Waktu
itu aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaan aku sama kamu. Sampai akhirnya
aku menyesal. Selama kita pisah, aku gak pernah gak mikirin kamu dan aku juga
selalu berharap masih ada tempat untuk aku di hati kamu, Fenti.” Jery mengalihkan
pandangannya kearahku. Aku kembali menatapnya.
“Izinkan
aku menyayangi kamu, Fenti dan aku harap ada tempat di hati kamu untuk aku.”
Aku
tak mampu untuk mengatakan sesuatu kepadanya karena penantianku selama ini
akhirnya terjawab. Aku hanya bisa mengangguk sebagai tanda bahwa aku juga
menyayanginya dan dia memelukku dengan hangat.
Komentar
Posting Komentar