Mission Failed
Gavi menyambut
kedatangan Kiara dengan berdiri dari duduknya. Rasanya ia sudah lama sekali
tidak bertemu dengan perempuan itu. Padahal hari-harinya diisi dengan pesan
tidak penting dari Kiara, panggilan video yang dilakukan hanya untuk sekedar
menanyakan posisi masing-masing sedang ada di mana, dan banyak hal tidak
penting lainnya.
“Ada apa nih
tiba-tiba ngajakin ketemuan?” Gavi mulai membuka obrolan.
“Pesen minum dulu
kali, Gav,”
“Okay, gue panggilin
pelayannya,”
Begitu mereka
selesai dengan pesanan masing-masing, Gavi kembali menanyakan hal yang sama.
“Gue mau cerita,”
“Halah, paling lo
mau cerita anak baru di kantor lo yang nyebelin itu kan?”
“Dih, kok bisa tau?”
“Lo meragukan
kemampuan telepati gue ini mah,”
Kiara tertawa.
“Tapi dia udah enggak
anak baru banget kali, Gav. Udah setahunan kerja itu,”
“Bodoamat lah
pokoknya itu. Jadi, hal nyebelin apa lagi yang dilakukan si anak baru itu?”
“Kali ini dia nggak
nyebelin sih, Gav tapi ngangenin,” Jawab Kiara sambil tersenyum malu-malu.
“Dih, males banget
gue dengernya,” Jawab Gavi sinis.
“Gue udah sebulan
jadian sama dia, Gav dan rencananya besok gue mau kenalin dia ke mama,”
Gavi terdiam
mendengar ucapan Kiara yang dalam satu tarikan nafas itu. Tenggorokannya terasa
tercekat. Bagaimana tidak, begitu Kiara menghubunginya untuk bertemu, Gavi
sudah mempersiapkan dirinya untuk mengungkapkan apa yang selama ini ia rasakan
kepada Kiara. Ia ingin memanfaatkan momen ini untuk mengungkapkan perasaannya.
Gavi menyukai Kiara sudah sejak lama. Namun, lagi-lagi Gavi kalah cepat.
Si anak baru anjing!
Batinnya.
“Gav, kok diem?
Minum dulu nih pesanannya udah datang,”
Gavi meminum ice
americano pesanannya dengan harapan sedikit melegakan perasaannya tapi
nyatanya malah terasa semakin berantakan.
“Menurut Lo gimana,
Gav? Gue mau cerita itu doang sih,” Lanjut Kiara dengan santainya.
Kiara tidak tahu
saja bahwa Gavi sekarang merasa jiwa nya sudah pergi entah ke mana. Hal seperti
ini bukan pertama kalinya bagi Gavi tapi entah kenapa yang kali ini begitu
membuatnya frustasi. Gavi frustasi sebab delapan tahunnya mengenal Kiara kalah
dengan si anak baru yang belum lama mengenal pujaan hatinya.
Gavi masih diam dan
belum memberikan tanggapan apapun.
“Lo hari ini rapi
banget, Gav. Cakep lagi. Kayak mau nembak cewek,” Kiara kembali mengoceh.
“Tadinya,” Jawab
Gavi singkat.
“Lah, kok,” Balas
Kiara bingung.
“Keburu jadian sama
yang lain, Ra,”
Gavi sedikit
menegakkan badannya dan menatap Kiara serius.
“Ra, gue juga mau
ngomong sesuatu. Sebenarnya ini udah telat buat gue omongin tapi masih
ngeganjel aja sampai sekarang,”
“Apa Gav?”
“Gue jatuh cinta
sama loe sejak semester 3 perkuliahan….,”
Kiara ingin
menginterupsi perkataan Gavi, namun diabaikan olehnya.
“Lo pinter, Ra.
Cantik. Setiap kali lo potong rambut sebahu, itu menjadi model potongan rambut
favorite gue. Belum lagi kalau lo udah mimpin rapat event kemahasiswaan, gue
kagum dengan lo yang tegas dalam mengambil keputusan…..,”
“Lo perempuan yang
nggak pernah jawab ‘terserah’ setiap kali ditanya mau makan apa. Lo selalu udah
punya pilihan untuk hal-hal remeh bahkan hal penting sekalipun,”
Kiara masih menyimak
setiap kata demi kata yang diucapkan Gavi.
“Enggak usah
memusingkan perasaan gue, Ra. Gue Cuma menyampaikan hal yang ngeganjel biar
lega,” Jawab Gavi sambil tertawa. Tapi tentu saja tawa itu terdengar
menyedihkan.
“Gav, kenapa enggak
dari dulu?” Tanya Kiara hati-hati. Ia takut salah mengucap dan menyinggung
Gavi.
“Elo selalu dalam keadaan
jatuh cinta dan patah hati, Ra,”
Kiara diam.
“Setiap kali gue
ingin menyatakan perasaan, elo selalu dalam keadaan patah hati. Gue nggak mau
jadi laki-laki yang sekedar menjadi pelampiasan rasa sedih lo,”
“Di saat gue merasa
lo udah menata hati dan bisa menerima orang baru, tapi ternyata gue kalah lagi.
Lo udah lebih dulu dekat sama seseorang dan gue kembali menjadi pendengar yang
baik buat lo,”
“Gavi, maafin gue,”
“Enggak ada yang harus
dimaafin, Ra. Gue Cuma sahabat yang tidak cukup untuk dicintai sebagai seorang
lelaki,”
Seperti kenyataan dari penulis ðŸ˜
BalasHapus