Sasa & Juna

“Nggak lagi-lagi ya Lo begini, Jun,” Randra terus saja mengomel bahkan saat ini ia membanting pintu mobil kesayangannya demi menyalurkan kekesalannya.

“Apaan sih Lo lebay banget pagi buta begini udah ngomel,” Juna pun tak kalah kesalnya lantaran omelan temannya itu.

“Ya Elo rese pake segala tidur pas solat. Bikin heboh orang-orang satu masjid mending posisi tidur Lo goleran ini pas sujud,”

“Indah banget kali ya, Ran kalau gue mati dalam kondisi begitu”

“Nggak pantes dengan akhlak Lo yang minus,”

Ya. Randra masih terus saja menyalurkan kekesalannya karena temannya itu bisa-bisanya ketiduran ketika sujud. Melihat Juna yang tak kunjung bangun dari sujudnya tentu saja membuat Randra panik dan menghebohkan seisi masjid. Entah karena kelelahan akibatnya banyak nya pekerjaan atau memang masih mengantuk Randra pun tak tau. Ini cukup untuk pertama dan terakhir kalinya ia mengajak temannya itu untuk solat subuh berjamaah di masjid sekitaran kantornya.

“Udah berapa hari Lo nginap di kantor?”

“Baru 2 hari lah,”

“Gue nggak pernah ngasi Lo kerjaan yang overload sampai harus lembur dan nginap di kantor ya, Jun. Ada masalah apa Lo?”

“Kagak ada. Emang lagi senang-senangnya kerja aja Gue,”

“Dih, bacot amat nih, sempak Firaun,”

Juna tak menanggapi perkataan temannya itu karena memang ia terlalu Lelah saat ini. Lebih tepatnya Lelah dengan pikirannya sendiri.

“Dahlah, balik aja Lo. Nggak usah kerja hari ini. Sakit mata gue lihat tampang kusut Lo. Selesaiin masalah percintaan Lo itu baru masuk kerja,” Randra kembali melanjutkan omongannya.

“Gue nggak ngomong gitu,”

“Dipikir Gue nggak tau apa kalo lo udah begini pasti masalah cewek lah,”

“Tapi ini Gue nggak masuk nggak bakalan potong gaji kan?”

“Kagak. Tytyd lo ntar yang Gue potong lagi,”

 

*****

Atas instruksi boss sekaligus sahabatnya itu, Juna memutuskan untuk libur sehari. Belakangan ini pikirannya selalu bising dengan seorang perempuan yang memang sudah lama mengisi hatinya. Ada satu nama yang beberapa tahun belakangan mengisi kekosongan hati seorang Juna. Namun, seseorang itu juga yang membuat pikiran Juna berkecamuk belakangan ini.

Sa, can we meet? We need to talk

Sebuah pesan singkat Juna kirimkan kepada perempuannya.

Aku sibuk, Jun

Babe, ayolah kita selesaikan masalah ini

Don’t you ever dare to call me babe, Jun. I’m not your babe anymore!

Iya, okay! Tapi kalau nggak kita obrolin gimana masalahnya bisa selesai, Sa. Please, we need to talk.

Kali ini Juna sangat berharap ajakannya disambut baik oleh Sasa.

Jemput aku jam 7 di kantor. Be on time!

Setelah beberapa kali mendapat penolakan, akhirnya Juna berhasil membujuk Sasa untuk membicarakan nasib hubungan mereka.

Tepat jam 7 malam Juna sudah memarkirkan mobilnya di basement kantor Sasa. Ia pun tak lupa mengirimkan pesan bahwa ia sudah tiba dan menunggu perempuannya itu keluar dari kantornya. Meski terlihat jelas wajah kelelahan dan jutek dari perempuannya, hal itu tidak mengurangi rasa sayang Juna kepadanya. Sasa dengan setelan kerjanya bahkan sesuatu yang menjadi kesukaan Juna.

“Jadi apa yang mau kamu omongin?”

Tanpa basa-basi, begitu Sasa duduk di bangku penumpang ia langsung menanyakan maksud dan tujuan Juna.

“Kita makan dulu ya, Sa. Kamu pasti laper”

Sasa sedikit tidak habis pikir dengan pilihan tempat makan yang dituju oleh Juna. Sasa paham, tujuan Juna mengajaknya bertemu hari ini pasti akan membicarakan hubungan mereka yang belakangan merenggang. Tapi, membicarakan hubungan yang tidak baik-baik saja di sebuah warung pecel lele pinggir jalan bukan lah pilihan yang tepat menurutnya. Mengingat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang dan juga pengamen yang pastinya silih berganti.

Melihat Sasa dengan muka juteknya sedikit menciutkan nyali Juna. Ia sadar membawa Sasa makan di warung pecel lele pinggir jalan ini bukanlah pilihan terbaik. Bukan karena perempuan itu tidak menyukai menu makanan dan tempatnya tapi situasi hubungan mereka yang membuat Sasa semakin geram. Tapi, hal itu dilakukan Juna hanya untuk mengulur waktu agar ia dapat menyiapkan dirinya lebih lama lagi.

*****

Setelah membeli dua botol minuman di sebuah indomaret terdekat, Juna masih terus saja diam. Ia bingung harus memulainya dari mana.

“Sa, apa semuanya nggak bisa diobrolin lagi?” setelah sekian drama Juna menyampaikan maksud dan tujuannya.

“Ya kamu mikir dong, Jun sekian tahun kita pacaran masa iya nggak ada tujuannya,”

Suara Sasa sedikit bergetar seolah menahan tangis dan Juna pun menyadarinya.

“Tapi kan menikah nggak gampang, Sa,”

“Kalo kamu pikir menikah itu gampang nggak bakalan ada kasus perceraian, Juna,”

“Bukan itu maksud aku,”

“Ya terus apa? Apa lagi yang menjadi masalah sama kamu?”

Juna diam.

“Jun, aku paham kalau kamu pernah gagal tapi jadikan itu pelajaran. Kalau bukan karena desakan orangtua aku juga nggak bakalan maksa kamu. Tapi jangan tahan aku seperti ini. Kalau kamu memang belum siap, biarkan aku pergi dan jalanin kehidupan kita masing-masing,”

Juna masih tetap diam. Ia memberikan ruang sebanyak-banyaknya kepada perempuannya untuk menumpahkan segala amarahnya atas renggangnya hubungan mereka belakangan ini.

Sasa mengalihkan pandangannya dan mulai menangis.

“Sa, liat aku deh,”

Kali ini Sasa yang diam dan tak memperdulikan Juna.

“Kalau aku lamar kamu sekarang siap nggak?”

Entah mengapa perkataan Juna barusan terdengar seperti sebuah candaan untuknya.

“Sa, maaf untuk semua sikap menyebalkan aku belakangan ini. Aku terlalu takut untuk memulai tahap yang baru di hubungan kita. Maaf udah buat kamu merasa ragu dengan semua yang udah kita jalani,”

“Aku bukan trauma dengan masalalu, Sa tapi aku takut nggak bisa menjadi pasangan seperti yang kamu pengen,” Juna melanjutkan ucapannya.

“Aku nggak nuntut banyak sama kamu, Jun,”

“I know tapi tetap aja ketakutan itu selalu ada,”

Sasa kembali diam.

“Sa, liat aku deh,”

“Sa….,”

“Sayang,”

Begitu Sasa membalikkan badannya, dengan entengnya Juna mengecup bibir kekasihnya itu. Namun, belum sempat Sasa melontarkan protesnya, sebuah kotak cicin yang memang sudah sejak tadi digenggam oleh Juna disodorkannya kepada Sasa.

“Nikah sama aku ya, Sa,”

Hal ini tentu saja membuat Sasa kaget karena ia tidak berekspektasi akan dilamar dengan cara seperti ini.

Tanpa banyak berpikir lagi, Juna menarik satu lengan Sasa dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya. Air mata Sasa kembali turun karena ia masih tidak menyangka. Juna pun mengambil kesempatan memeluk kekasihnya itu untuk menenangkannya.

“Maaf ya, Sa untuk semuanya. Kamu bebas request apa saja untuk pernikahannya. Aku akan wujudkan semuanya semampu aku,”

Sasa mengangguk di dalam pelukan Juna sebagai balasan. Namun, tak lama setelah itu ia melepaskan pelukannya.

“Tapi, Jun…..”

“Apa lagi Sa?”

Belum sempat perempuan itu menyelesaikan kalimatnya, Juna langsung memotong perkataannya dengan panik.

“Rekening kamu kan gendut ya, duit kamu juga banyak masa iya ngelamar aku nggak proper gini sih,”

Ya. Kalau dipikir lagi memang tidak ada romantis-romantisnya dari cara Juna melamar perempuannya. Di dalam mobil, di depan parkiran indomaret, dan suara kendaraan yang bersinggungan. Mungkin hujan yang turun rintik-rintik dan lagu barat yang terputar di pengeras suara mobilnya yang sedikit memberikan komposisi romantis untuk gelaran lamaran Juna kepada Sasa.

Namun, belum sempat Juna menetralkan hati mungilnya atas ucapan Sasa barusan, spam chat masuk dengan membabi buta di hanphone nya. Juna sudah bisa menebak siapa yang mengiriminya pesan sebanyak itu. Tapi inti dari pesan singkat itu membuat hati Juna kecut.

Besok tetap masuk kerja

Patah hati bisa ditunda

Kerjaan enggak

Nggak usah makan gaji buta Lo, Jun

“Emang Randra boss kampret jelmaan Firaun” batin Juna.

Komentar