Hello, Goodbye
“Is this a goodbye?”
“Maksud kamu apa, Re?”
“Aku nggak akan baik-baik aja setelah ini, Bim,”
Bima diam.
“Dalam hitungan hari kamu akan menikah. Bisa dijelasin semua perlakuan kamu hari ini maksudnya apa?”
“Kenapa kamu tiba-tiba minta penjelasan, Rea?
“Nggak semua pertanyaan bisa dijawab dengan pertanyaan, Bim”
“Re, kita temenan udah lama. Kita juga udah sering jalan bareng. Kenapa dengan kamu hari ini?”
“Seorang teman nggak akan mencium temannya, Bim. Seorang teman juga nggak akan menggenggam tangan temannya sepanjang film,”
Bima lagi-lagi diam.
“Oh, maaf kalau aku berlebihan menanggapi sikap kamu,” Lanjut Rea.
“Re, apa kamu nggak pernah ada sedikit pun perasaan untuk saya?” Bima menatap Rea yang duduk di samping nya.
“Apa dia tau hari ini kamu pergi sama aku?”
“Nggak semua
pertanyaan bisa dijawab dengan pertanyaan, Re” Bima seolah frustasi dengan
situasi yang dihadapinya saat ini.
Rea hanya bisa menunduk dan tanpa sadar menitikkan air matanya.
“Aku permisi, Bim”
Sebelum Rea sempat turun dan keluar dari mobilnya, Bima dengan segera mengunci pintu mobilnya.
“Re, awalnya saya berpikir saya hanya butuh kamu. Saya butuh kamu di saat saya sulit. Di saat orang-orang di sekitar saya nggak ada yang peduli, kamu selalu ada. Setelah itu saya sadar saya nggak sekedar butuh kamu, tapi saya pengen kamu ada di setiap kondisi yang saya lewati,”
Kali ini Rea terdiam.
“Di saat saya mau mengungkapkan semuanya, kamu membuat saya ragu. Kadang kamu membuat saya yakin untuk terus maju tapi kamu juga seolah memaksa saya untuk mundur. Sampai pada akhirnya saya menjauh dari kamu,”
“Bim, ….”
“Kamu seolah membuat batasan yang sulit untuk saya lewati, Re. Tapi, sering juga kamu sendiri yang membuka batasan itu dan membiarkan saya masuk,”
Bima kembali melanjutkan omongannya. “Maaf sikap saya hari ini membuat kamu nggak nyaman,”
“Bim, aku suka sama kamu dan sekarang pun masih,” dengan suara yang bergetar akhirnya Rea mengungkapkan apa yang selama ini ditahannya.
“Kenapa baru sekarang, Re?”
Jika Rea tidak salah dengar, seperti ada luka pada nada bicara Bima.
“Apa yang membuat kamu nggak yakin dengan saya, Re?” Bima kembali melontarkan pertanyaannya.
“Bim, aku minta maaf,”
“Apa kamu terlalu memusingkan dengan masukan dari teman-teman kamu? Atau kamu punya alasan lain, Re?”
“Bim, aku ….,”
Belum sempat Rea menyelesaikan kalimatnya, Bima langsung memotongnya.
“Apa karna orangtua kamu melarang kita untuk dekat? Apa omongan yang saya dengar dari orang-orang itu benar?”
Rea hanya bisa mengangguk dan kembali meneteskan air matanya. Bima, entahlah. Dia terlihat sangat kecewa.
Setelah hening cukup lama, Rea memberanikan diri untuk kembali berbicara.
“Bim, terima kasih untuk hari ini. Semoga pernikahan kamu lancar dan aku selalu doakan yang terbaik untuk kamu. Aku permisi, Bim”
Bima kembali menahan Rea yang hendak turun dari mobilnya.
“Saya masih bisa batalin semuanya,”
“Maksud kamu?”
“Saya masih bisa batalin pernikahan ini,”
Rea seketika shock dan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Bima.
“Jangan gila kamu, Bim,”
“Re, kita saling suka dan sebelum pernikahan ini terjadi, kita bisa mulai semuanya dari awal,”
“Jangan ngaco, Bim pernikahan bukan main-main,”
“Re, saya yakin kalau kita sedikit lebih sabar dan berusaha, papa kamu pasti ngasih restu buat kita,”
Kali ini Rea tidak habis pikir dengan Bima.
“Bim, jangan sampai kejadian hari ini buat kamu menyesal. Kita Cuma terbawa suasana. Dia yang terbaik buat kamu,”
Bima masih saja mendebat Rea. Ia tetap bertahan dengan argumennya. Sadar perdebatan ini akan berujung masalah, Rea langsung saja menghentikan Bima yang terus mengoceh.
“Bim, udah. Kita cukupkan ini sampai di sini. Lupakan semua yang terjadi hari ini. Jadilah yang terbaik untuk dia, Bim.”
Rea sadar setelah ini ia tidak akan baik-baik saja. Ia juga sadar setelah ini ia akan melewati hari-hari yang panjang dan melelahkan dengan kembali mengingat Bima yang akan menjadi milik orang lain. Tapi, ia juga sadar mundur dan menghilang akan jauh lebih baik.
“Maafin saya, Re,”
“Tidak apa-apa, Bim aku ngerti. Semoga acara kamu lancar dan aku turut bahagia,”
“Makasih, Re”
Rea hanya mengangguk lalu turun dari mobil Bima dengan perasaan yang benar-benar tidak baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar