Maria


“GILAAAAANNGG, WHY THIS APARTMENT SO MESSY?”

“stop yelling at me if you can’t help anything, An”

Keributan yang sama selalu saja terjadi. Setiap weekend hidup gue kayaknya nggak pernah bisa tenang. Selain disibukkan dengan urusan rumah tangga, gue juga selalu diteriakin Anna, adek gue yang tidak pernah berkontribusi apa-apa di kehidupan gue. Minggu pagi gue selalu dihabiskan dengan mencuci dan membersihkan apartemen ini. Sebagai seorang pria sukses dengan segala kesibukan yang gue miliki gue selalu bangga karna masih bisa mengurus diri sendiri walau kadang gue kerepotan dengan urusan beginian. Yha, gue memang senarsis itu dalam membanggakan diri gue sendiri.

“Gilang, minggu depan gue mau pindah ke kos-kosan dekat kampus. Gue udah izin sama mama dan dibolehin,” ditengah kesibukan gue bersih-bersih, informasi yang baru saja disampaikan Anna sangat tidak menyenangkan.

“Whaaattt?! Are you kidding, An?!”

“Elu pria dewasa ya, Gilang bukan anak kecil yang harus gue urusin,”

“Trus yang bantuin gue ngurus ini apartemen siapa dong ?”

“Lu dari kemaren rusuh banget minta dicariin housekeeper kan, gue udah cariin,”

“Who ?”

“Teman kuliah gue. Tu anak nggak sanggup bayar kos-kosan. Katanya bebas dibayar berapa yang penting dikasi tempat tinggal,”

“Bisa kerja nggak tu orang? Kalau yang yang sejenis kayak elo mending nggak usah deh yang ada nyusahin gue,”

“She’s recommended. Trust me,”

Gue agak geli dengan ucapan Anna, tapi ya sudah lah.

***
Anna beneran serius dengan ucapannya yang mengatakan ingin pindah. Gue beberapa kali mencoba menahan Anna untuk nggak pindah dari apartemen ini tapi itu cewek kayaknya emang nggak pernah mau dengerin omongan abangnya. Sesuai janjinya, setelah adek gue pindah dia beneran memboyong temannya yang akan menjadi housekeeper di apartemen gue. Singkat cerita itu anak akhirnya menginjakkan kakinya di apartemen gue dan Anna dengan hebohnya memperkenalkan si calon housekeeper tersebut.

“Gilang, ini Maria teman yang gue ceritain kemaren. Dia yang bakalan bantuin lo ngurus ni apartemen sekaligus hidup lo,”

Cuma Anna, adek gue sendiri yang bisa buat gue terlihat tidak ada harga dirinya di hadapan orang lain. Gue pun salaman dengan perempuan yang bernama Maria tersebut.  Anna pun menggiring Maria untuk masuk ke kamar yang dulu ditempatinya untuk mempersilahkan perempuan itu menempati kamar tersebut. Setelah selesai sesi room tour yang dilakukan Anna akhirnya sekarang tinggal gue dan Maria doang yang berada di apartemen ini.

Ternyata bersama dengan seorang wanita asing membuat situasi menjadi canggung. Ini anak baru datang aja situasinya udah kayak gini gimana seterusnya nanti.

“Saya udah banyak dengar tentang kamu dari Anna,” Akhirnya gue memulai obrolan yang dibalas dengan anggukan dan senyum dari Maria.

“Tugas kamu cukup memastikan apartemen ini bersih dan rapi karna saya nggak suka dengan ruangan yang berantakan,”

“Dapur disebelah sana, ….” Gue melanjutkan sambil menunjuk letak posisi dapur yang sebenarnya nggak perlu gue lakukan karna Anna sudah menjelaskannya.

“Saya seringnya makan di luar jadi kamu nggak perlu repot-repot masakin saya. Tapi kalau kamu pengen masak sesuatu silahkan dipakai aja dapurnya,” Maria terus menyimak penjelasan gue dengan tenang.

“Nanti saya akan ninggalin uang untuk kamu belanja bulanan dan belanja keperluan dapur,”

Gue pun kembali melanjutkan menjelaskan beberapa hal yang harus Maria ketahui.

“Kayaknya itu aja tugas kamu. Ada pertanyaan?” gue udah kayak dosen yang ngasih materi kuliah aja.

“Hmm, gini pak,….”

“Wait. Pak ? I’m not that old,” Gila aja ni cewek manggil gue pak.

“Maaf, mas,”

“Nah, sounds interesting. Go on kamu mau ngomong apa ?”

“Apa mas Gilang keberatan kalau sesekali saya ninggalin apartemen untuk menyelesaikan urusan kuliah saya ?”

“Selagi kamu ninggalin apartemen ini dalam keadaan rapi, nggak ada masalah buat saya,”

“Baik, mas terima kasih,”

“Ada yang mau kamu tanyakan lagi ?”

Maria membalas dengan gelengan kepala.

“Okay, kalau gitu kamu bisa istirahat di kamar yang ditunjuk Anna tadi,”

***
Anna nggak bohong. Maria benar-benar recommended. Maria cukup telaten dalam urusan mengurusi rumah tangga. Bahkan, gue pernah beberapa kali mencicipi masakannya dan rasanya luar biasa. Jauh berbeda dengan hasil masakan Anna yang memang skill nya pas-pasan.

Namun, dibalik itu semua ada beberapa hal yang membuat gue nggak nyaman setiap kali melihat Maria mondar-mandir di apartemen ini. Setiap pergerakan yang perempuan itu lakukan sangat memprovokasi otak gue. Seperti sekarang misalnya, Maria keluar kamar hanya dengan menggunakan tanktop dan celana gemesnya. Entah apa yang dikerjakan perempuan itu hingga tengah malam begini belum juga tidur. Gue memperhatikan pergerakan Maria darijauh dan saat dia menyadari kehadiran gue, Maria terlihat kaget dan langsung balik masuk ke kamar.

Shit! Apa gue semenyeramkan itu sampai tu cewek balik masuk ke kamar? Ternyata gue salah, tak berapa lama kemudian Maria kembali keluar dengan memakai cardigan dan terlihat sedikit lebih sopan. Bukan hanya itu, gue sempat memergoki Maria hanya berbalut handuk dengan tubuhnya yang sedikit basah dan rambutnya yang dicepol.

Adegan tersebut selalu berputar di otak gue. Belum lagi saat melihat tampilan Maria baru bangun tidur. Terlihat semakin menggemaskan saja dan ditambah tampilan Maria dengan make up naturalnya buat gue semakin gila.

“Belum tidur, mas Gilang?” Maria sepertinya mencoba berbasa basi.

“Iya nih lagi nggak bisa tidur. Kamu sendiri kenapa belum tidur?”

“Baru selesai ngerjain skripsi, mas,”

“Trus sekarang mau ngapain?”

“Mau buat coklat hangat. Mas Gilang mau?”

“Boleh deh,”

Maria balas dengan tersenyum.

“Oiya, Mar kalo nggak ngerepotin tolong masakin indomie dong,”

“Baik, mas,”

Gue memperhatikan Maria yang sedang memasak indomie dari balik meja makan. Seperti yang gue bilang sebelumnya, setiap pergerakan yang dilakukan tu anak sangat provokatif di otak gue. Setiap detail pergerakannya gue perhatikan dengan seksama. Mulai dari Maria berjinjit mengambil indomie di lemari kabinet, menyeduh coklat panas, memasak indomie, hingga adegan Maria menjilati jarinya akibat terkena tumpahan kuah indomie tak luput dari pandangan gue.

“Ini, mas indomie nya,” Maria menyadarkan lamunan gue.

“Thank you, Mar,”

Lalu Maria berbalik.

“Kamu mau ke mana?” Gue reflek menarik tangan Maria dan menahannya. Sial!

“Balik ke kamar, mas,”

“Kamu disini aja temanin saya,” Jawab gue gelagapan.

Maria tidak membantah. Dia duduk di samping gue dengan posisi gue berada di ujung meja. Dalam diam sesekali gue memparhatikan Maria yang sedang menikmati coklat hangatnya. Selama perempuan ini bekerja sama gue, tak banyak interaksi yang kami lakukan. Gue hanya bertemu Maria di pagi hari setiap akan berangkat kerja dan sesekali bertemu pada malam hari. Malam ini sepertinya interaksi paling lama yang pernah gue lakukan dan sepertinya memang akan menjadi paling lama.

“Mar,”

“Iya, mas Gilang,” Maria menolehkan wajahnya ke gue.

Cup. Gue memberikan satu kecupan di bibir Maria. Shit! Gue beneran udah nggak tahan untuk mencicipi bibir perempuan ini. Gue nggak peduli kalau setelah ini mendapatkan serangan balasan seperti digampar atau yang lainnya. Tapi sepertinya Maria terlalu kaget dengan apa yang gue lakukan barusan dan dia nggak melakukan apa-apa. Melihat situasi yang sepertinya aman dan nggak mendapatkan serangan balasan, gue mencoba peruntungan untuk kedua kalinya dan Maria masih sama kagetnya.

Gue menarik kursi yang diduduki Maria untuk lebih rapat ke gue dan kembali menciumnya. Maria masih tidak membalas ciuman gue. Wajahnya yang kaget malah terlihat menggemaskan dan membuat gue terpacu untuk terus menciumnya. Dan, entah bagaimana awalnya, sekarang Maria berada di pangkuan gue. Gue terus meraup bibirnya. Maria beberapa kali mencoba mendorong gue sekuat yang ia bisa tapi sepertinya tenaga perempuan itu kalah kuat dari gue.

Gue semakin mempererat pelukan gue di pinggangnya dan membuat Maria semakin sesak napas. Tanpa sadar, Maria melingkarkan lengannya di leher gue dan mulai membalas ciuman-ciuman yang gue berikan. Sadar akan penerimaan yang diberikan Maria, membuat gue semakin menggila. Gue semakin memperdalam ciuman di bibirnya. Pada saat Maria menjambak kasar rambut gue, akal sehat gue sepertinya udah nggak ada lagi. Dari bibir turun ke rahang dan sial! leher Maria terasa nikmat. Berkali-kali gue menghirup aroma tubuhnya dan saat mendengar erangan keluar dari mulutnya, gue benar-benar merasa udah gila.

Tangan gue pun seolah nggak mau kalah liarnya. Gue mulai mengelus paha mulus Maria. For god’s sake, ini cewek bukan sembarangan. Paha nya mulus banget woy! tangan gue terus meraba naik melepaskan cardigan yang digunakannya dan ketika bahu putih dan mulus milik Maria terpampang jelas di hadapan gue, gue tidak kuasa buat nahan untuk tidak menyerukkan kembali wajah gue diantara bahu dan lehernya serta memberikan kecupan disana.

Gue kembali mendengar erangan Maria dan gue benar-benar suka akan hal itu terlebih karna perbuatan gue sendiri. Satu hal lagi yang membuat gue semakin nggak waras malam ini, payudara Maria terlalu menggoda untuk dilewatkan. Tangan gue pun semakin kurang ajar menyentuh setiap jengkal tubuh Maria.

“Mas, gilang,” Maria memanggil nama gue disela erangannya.

“Yes, Mar,”

“Apa apartemen ini sudah terkunci dengan baik?” Gue nggak mengerti maksud Maria menanyakan hal ini.

“Ofcourse,”

Maria masih saja terus mengoceh.

“Mas Gilang,”

“What else, Mar?

“Stop it!”

“I can’t”

“Mas, kayaknya ada yang mencoba membuka pintu apartemen ini,”

Paham akan arah pembicaraan Maria, gue tanpa sadar mengumpat.

“Shit! it must be Anna. She’s coming,”

Dengan secepat kilat Maria langsung menyingkir dari pangkuan gue dan lari ke kamarnya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus