Pemeran Pengganti
Malam kesekian tanpa pesan
darinya. Malam ini saya kembali terduduk di depan meja kerja kamar saya sambil
menatap layar laptop dan handphone bergantian. Dulu, sebelum mengenalnya, hidup
saya berjalan dengan sewajarnya meski sekarang pun masih hanya saja ditambah
dengan perasaan kehilangan.
Kali ini focus saya beralih ke
layar handphone. Mengecek pesan whatsapp yang lagi-lagi tetap tidak ada
notifikasi dari nama yang belakangan ini menjadi favorite saya. Sadar tidak
akan ada apa-apa disana, saya membuka akun twitter yang telah saya tinggalkan
beberapa bulan belakangan. Dan, seolah semesta sedang mendukung kegundahan hati
saya, sebuah cuitan dari teman online saya muncul dengan tulisan, ‘Menjadi
orang Indonesia itu ribet. Bahkan, untuk perkara cinta saja kita kadang dipaksa
untuk berakhir padahal belum dimulai’. Dalam hati saya bergumam, ‘ini orang
bangsat juga’, namun, tetap saja saya mengklik retweet atas cuitannya.
Setelah puas menscroll atas
bawah, sana sini, saya menutup aplikasi tersebut dan kembali focus ke laptop.
Entah apa yang akan saya lakukan pada benda satu itu. Akhirnya saya membuka
youtube dan memutar beberapa music video secara random sambil sesekali mengecek
handphone berharap ada sebuah pesan darinya namun tetap tak kunjung ada. Lalu,
sebuah lagu terputar di earphone saya
Mungkin
aku patut membenci diaaa~
Karna
mencintaimuuu~
Jujur
ku katakan aku tak rela~
Dia
curi hatimuu~
Sial! Keadaan saat ini
benar-benar sedang mentertawakan saya. Lirik lagu tersebut kurang lebih menggambarkan
perasaan saya. Dulu, dia pernah mengatakan tidak akan meninggalkan tapi
ternyata dia yang malah pergi duluan.
“Aku mau serius sama kamu,”
katanya.
“Serius yang seperti apa ?”
“Kita berdua. Bersama,” katanya
lagi.
Saya hanya bisa diam.
“Aku nggak bakalan ninggalin kamu
kayak yang mantan kamu lakukan,” lanjutnya.
Saya hanya bisa tertawa ringan. Tidak
yakin dengan ucapannya, “kita lihat aja nanti,”
“Trust me,” dia kembali mencoba
meyakinkan.
“I’m more than serious if you so,”
jawab saya tidak yakin namun tetap berharap bahwa perkataannya bisa dipercaya.
“Thank you. Let me show you my
effort for us,”
Perspective bahwa omongan lelaki
tidak bisa dipercaya semakin meyakinkan saya sejak menghilangnya seorang ‘aku
mau serius sama kamu’ selama beberapa hari belakangan. Saya mencoba untuk
meyakinkan diri sendiri bahwa dia pengecualian tapi diri saya yang lain
mengatakan bahwa dia sama saja seperti yang lainnya. Dan, saya masih saja
berharap bahwa dia pengecualian dengan mengirimkan sebuah pesan whatsapp.
Are
you busy ?
Pesan saya sudah bertanda centang
dua yang mana pesan sudah terkirim tapi belum dibaca. Satu menit. Dua menit.
sepuluh menit tetap tak ada balasan dan berujung saya ketiduran. Lalu, paginya
sebuah pesan masuk.
I’m
kinda busy. Why ?
Sejujurnya, saya sudah tak
berminat lagi untuk membalas pesannya. Namun, sisi bodoh diri saya berharap
lebih terhadapanya. Dengan perasaan yang gamang saya membalas pesannya.
Why
you don’t text me at all ?
Lalu, tak pernah ada balasan
hingga akhirnya saya melihat sebuah story instagram nya bersama seseorang yang
disebutnya ‘My Sunshine’. Patah hati dengan ditinggal tanpa sebab dan alasan
jauh lebih menyakitkan dari apapun.

Komentar
Posting Komentar