Direct Message : Pesan Whatsapp




Malam itu, setelah Pekanbaru diguyur hujan deras seharian dan menyisakan rintik-rintik, sebuah pesan singkat masuk di handphone saya.

Kamu udah makan ?

Satu kalimat sederhana namun bermakna luar biasa bagi mereka yang sedang dimabuk asmara. Lantas saya pun tidak langsung membalasnya agar tidak terlihat sangat menantikan sebuah pesan darinya.

Coba keluar deh

Belum sempat saya membalas pesan sebelumnya, satu pesan kembali masuk.

Keluar ? ngapain ? lagi hujan gini

Aku di depan kosan kamu

Saya mengintip dari balik jendela dan benar saja dia sudah ada di depan kosan saya.

“kamu ngapain hujan-hujanan begini ?”

“mau mastiin kamu nggak kelaparan malam ini hehe”

“ya nggak kayak gini juga,”

“udah deh buruan siap-siap kita pergi makan,”

***

Bagi kalian yang sering berkeliaran disekitaran Panam, pastinya sering menemukan tempat-tempat yang menjual berbagai macam makanan dan kalau kalian menyusuri setiap jalanan di daerah tersebut, akan semakin banyak aneka makanan yang akan ditemukan. Mulai dari nasi goreng, seblak, sate padang, sate padeh, dan berbagai macam sate dan makanan lainnya. Lalu, kami pun berhenti di sebuah warung tenda tepat di simpang jalan Delima, persis di depan sebuah dealer sepeda motor. Makanan yang dijual disini sebenarnya biasa saja. Tidak begitu enak juga tidak terlalu buruk. Tapi, yang membuat kami memilih tempat ini karna satu hal, tidak jauh dari kosan saya.

“kamu tuh aneh ya”

“aneh gimana ?”

“kamu mau mastiin saya nggak kelaparan tapi kamunya ngajak saya hujan-hujanan”

“ohh, iya yaa aku baru kepikiran hahaha”

“tapi, yaudah sih, Mel gerimis doang ini nggak bakalan sakit lah kamu,” dia melanjutkan.

“kamu makannya cepet banget,”

“iya dong, Mel aku kan cowok segalanya harus cepat,”

Sebuah alasan yang mengada-ada. Buat ngomong kelaparan doang susah amat sih.

“kamu makannya nggak perlu buru-buru, Mel. Lama-lama juga nggak apa-apa karna itu tandanya kamu menikmati. Menikmati makan bareng aku,”

Ada jeda sejenak setelah ia menunjukkan kepercayaan dirinya sambil terus-terusan cengengesan.

“kamu kalo mau ngerokok ya ngerokok aja, nggak apa-apa kok,”

Ya, dia seorang perokok aktif dan saya paham sekali. Bagi seorang perokok, merokok setelah makan adalah sebuah kenikmatan. Entah bagaimana nikmatnya saya juga nggak tau.

“nggak ah, Mel asap rokok nggak baik buat kesehatan kamu,”

“ngajakin saya hujan-hujanan juga nggak baik lho buat kesehatan,”

“yaelah, Mel masih aja dibahas namanya juga kangen, peka dong,”

“bisa yang keren lagi ngegombalnya ?”

Dia pun diam. Entah apa yang membuatnya enggan menjawab. Saya pun menyelesaikan makan saya.

“Mel,”

“Hmmm,”

“kamu nggak lagi deket dengan siapapun kan ?”

“kenapa emang ?”

“kita pacaran aja yuk, Mel,”

Sebentar. Lelaki ini barusan beneran ngajakin saya pacaran atau bercanda doang, harus banget nembaknya di warung tenda kayak gini dengan diiringi suara rintik hujan dan ditambah nyanyian pengamen jalanan.

“Mel, jawab dong,”

Saya diam. Masih nggak yakin dengan apa yang diucapkannya.

“aku ulangin ya, Mel”

Dia menarik napas sejenak. “Mel, kita pacaran aja yuk biar kalau aku kangen aku bisa langsung ketemu kamu aja gitu nggak pake mikir ntar ada yang marah atau nggak sama kamu,”

Saya masih terdiam.

“mau ya, Mel ?”

Saya masih diam.

“oke, Mel kalau kamu diam aku anggap iya. Fix mulai malam ini kamu jadi pacar aku,”

***

Malam itu sempat menjadi malam yang tak terduga buat saya.  Dua minggu pendekatan lalu jadian. Ternyata dia gerak cepat juga. Dan, sialnya saya masih saja mengingat kejadian yang udah bertahun-tahun berlalu itu. Sebuah direct message instagram pun merusak segalanya. Sebuah pertanyaan ‘hai, apa kabar?’ semakin Nampak saja dampaknya. Mantan saya itu atau apapun itu kalian menyebutnya masih saja gencar menghubungi saya. Topik pembahasan yang diangkat hanya satu; ketemuan.

Hari ini saja entah sudah berapa banyak pesan whatsapp yang saya terima. Membuat mood semakin buruk saja. Pesan whatsapp nya yang tak pernah berhenti lalu ditambah lagi dengan rutinitas perkuliahan yang bikin saya makin gila saja. Ditengah kejenuhan saya menunggu dosen pembimbing yang entah kapan memperlihatkan wujudnya, saya memutuskan untuk membalas saja pesan whatsapp dari si mantan.

Mel, plis balas pesan aku. Aku butuh jawaban dari kamu

Iya, ini udah saya balas

Lalu ?

Jawaban saya tetap sama.

Sekali ini aja, Mel. Setelah itu aku janji nggak akan ganggu kamu lagi

Si mantan ini nggak ada matinya emang dalam hal memaksa.

Untuk apa ?

Anggap aja sebagai salam perpisahan dan permohonan maaf

Perpisahan nggak butuh perayaan. Sebelum kamu ngucapin selamat tinggal kita juga udah saling berpisah kan, lantas untuk apa lagi ?

Maaf ? saya udah maafin kamu

Sekali ini aja, Mel.

Memang si mantan ini membuat mood saya semakin buruk saja. Nggak ada gunanya memang membalas pesan darinya. Saya mengabaikan pesan terakhirnya. Lalu, memasang earphone dan mendengarkan lagu yang barangkali bisa mengembalikan mood.

Saya masih sibuk. Tunggu saja nanti saya kabari.

Oke, kali ini pesan dari dosen pembimbing. Sejak saya tiba di kampus dengan jadwal yang sudah ditentukannya, saya kembali menanyakan keberadaan dosen saya tersebut. Jadwal bimbingan yang beliau tetapkan dengan waktu ‘agak siang’ nyatanya hingga siang menjelang sore saya masih juga belum bimbingan. Kalau sudah begini, kantin adalah tempat pelarian dan  memesan makan pagi sekaligus makan siang yang saya jamak pada sore hari.

Sambil menunggu pesanan datang, handphone saya kembali bergetar dan notifikasi yang tertera di layar masih sama, dari si mantan.

Mel, aku mohon. Kita ketemu sebentar aja

Aku pengen jelasin semuanya

Orang seperti ini kayaknya nggak akan bisa pergi dengan hanya dicuekin. Baiklah akan saya tegaskan semuanya.

Saya udah pernah bilang sama kamu kalo kita udah pernah ketemu sebelumnya dan hasilnya buruk

Dan saya nggak mau itu terulang kembali.

Mel …

Saya belum selesai …

Saya sempat mencari tau salah saya sama kamu di mana dan semakin saya mencari tau semakin saya nggak menemukan jawabannya.

Saya lebih baik kamu putusin terang-terangan daripada kamu tinggalkan dengan tiba-tiba.

Kamu tau, sejak kamu pergi saya nggak berhenti menyalahkan diri saya sendiri

Mel, aku minta maaf

Saya masih belum selesai …

Dulu kamu pernah bilang, setiap sudut kota ini ada kenangan kita. Ya, kamu benar. Saya membenci jalanan sudirman, saya benci jagung bakar karna kamu dulu pernah membelikannya, saya benci warung-warung tenda sekitaran panam, saya benci pengamen yang menyanyikan lagu hari bersamanya, Sheila on 7, saya benci kantin fakultas ekonomi. Saya benci semua yang berhubungan dengan kamu.

Sekarang, setelah semuanya berlalu. Setelah saya jauh lebih baik tanpa kamu, kamu minta saya untuk menemui kamu. Persetan dengan pertemuan selamat tinggal yang kamu rencanakan karna saya yakin akan ada satu hal yang terlibat saat kita ketemu; emosi.

Jadi, apapun alasan kamu untuk ketemu dengan saya, entah itu untuk meminta maaf atau pertemuan selamat tinggal kita cukupkan disini saja. Teknologi memudahkan segalanya, bukan ?

Saya sudah memaafkan kamu sejak lama. Saya sudah berdamai dengan semua yang terjadi diantara kita, dan sekali lagi saya tegaskan, buat saya perpisahan nggak perlu perayaan.

Setelah mengetik pesan yang panjang lebar tersebut, saya meletakkan handphone saya dan mulai menyantap nasi uduk yang baru saja saya pesan. Saya nggak peduli lagi balasan apa yang akan dikirimkan si mantan ini. Namun, baru saja menyuapkan satu sendok nasi uduk ke dalam mulut saya, sebuah pesan whatsapp kembali masuk dan berhasil membuat saya mengumpat kesal.

Hari ini saya sibuk. Kita bimbingan minggu depan saja
-          Dosen Pembimbing yang terhormat


Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus