Absurd
Pekanbaru hari ini menyebalkan. Pagi
saya dimulai dengan bangun kesiangan, tugas kuliah yang belum di print, telat
di kelas pertama dan berujung diusir oleh dosen. Lalu, siapakah yang harus
disalahkan atas insiden ini ? iyak, benar. Alarm saya yang udah muak untuk
membangunkan tuannya. Pagi saya memang tidak pernah tidak hectic. Kalau sudah
begini, pilihan terbaik ya mending ke kantin saja. Udah kepalang telat lebih
baik dinikmati saja.
Kantin pagi ini jauh lebih tenang. Terlihat
dari hanya beberapa meja saja yang sudah ditempati. Namun, tetap saja saya
dihadapkan dengan beberapa pilihan. Lontong sayur, bubur ayam, nasi uduk, nasi goreng,
atau indomie yang harus menjadi pilihan menu makan saya. Akhirnya pilihan saya
jatuh pada nasi uduk karena nasi uduk adalah sebaik-baiknya makanan yang
dimakan di saat pagi menjelang siang seperti saat ini. Tentunya kalian sudah
paham, merangkap antara makan pagi dan siang di tanggal tua adalah sebuah
keharusan bagi mahasiswa yang kantongnya pas-pasan seperti saya ini.
Lalu sebuah pesan whatsapp masuk.
Nanti malam futsal jam 8
Belum sempat saya membalasnya, satu pesan whatsapp kembali
masuk.
Kelas siang ini dibatalkan.
Sebuah kabar bahagia dari grup kelas.
nanti malam jangan lupa, sayang
pesan whatsapp yang ini tentu saja dari pacar saya.
Tadi malam kamu enak!
Oke, abaikan pesan whatsapp yang
terakhir.
Sebelum saya lanjutkan, ada baiknya
saya jelasin dulu. Hidup saya itu kayaknya emang penuh dengan pilihan. Setelah tadi
saya dipusingkan dengan harus memilih makan apa untuk sarapan, kali ini saya
dihadapkan lagi dengan pilihan yang sedikit rumit. Gimana enggak, kalau saya
mengiyakan ajakan teman saya, pacar saya pasti ngambek. Kalau saya memenuhi
janji ketemuan dengan pacar saya, kegiatannya pasti monoton. Jalan, makan, trus
pulang.
Akhirnya, saya membalas ‘oke’. Tentu saja
untuk pesan whatsapp yang pertama. Bagaimana urusan dengan pacar saya, kita
bahas nanti saja.
Kuliah saya baru selesai di jam
setengah 5 sore. Dulu saya pikir menjadi anak kuliahan itu enak tapi ternyata
penuh jebakan. Tugas yang gak abis-abis, presentasi tiap minggu, jadwal kuliah
yang padat, dosen yang kadang suka tiba-tiba batalin kelas, dan masih banyak
jebakan lainnya. Menjadi anak kuliahan itu, sibuk di semester awal, selow di
semester pertengahan, dan selow banget namun penuh tekanan di semester akhir.
Pekanbaru di sore hari gak ada bedanya
dengan pagi. Selalu saja rame dan macet di mana-mana. Belum lagi ditambah
gerimis kemudian hujan. Akhirnya saya memilih berteduh di emperan toko. Saya sarankan
kepada kalian, pulang kuliah dan kehujanan jangan pernah memilih untuk berteduh
di pinggiran toko yang tak jauh dari abang-abang penjual sate kalau tidak ingin
berakhir dengan mengumpat diri sendiri. Karena pilihannya hanya dua, berakhir
dengan kelaparan atau merelakan jatah duit makan besok kepada abang penjual sate.
Sembari menunggu hujan reda, saya pun
membalas pesan whatsapp dari pacar saya siang tadi.
Maaf sekali sayang, sepertinya malam
ini saya nggak bisa.
Tanpa harus menunggu lama dia pun langsung membalasnya.
Minggu lalu kamu gak bisa karna udah
janji sama teman, kemaren juga gak bisa karena banyak tugas. Sekarang apa lagi
?
Sepertinya situasi mulai memanas.
Saya janji besok saya akan temui kamu. Okay
?
Saya nggak minta kamu buat temui saya
besok tapi hari ini!
Hari ini saya nggak bisa.
Sambil menunggu balasannya saya berjalan menuju abang-abang
penjual sate dan memesan satu porsi. Kurang ajar memang abang sate ini.
Kamu emang selalu lebih pentingin
teman-teman kamu.
Tapi saya sayangnya sama kamu!
Yaudah, kalau gitu besok saya tunggu.
Nah, ini yang membuat perasaan saya
mulai nggak enak. Saya lebih baik menghadapi pacar saya yang marah-marah bahkan
dimaki sekalipun daripada harus menghadapi dia yang kalem begini. Terakhir kali
pacar saya begini, hari saya berakhir dengan mengenaskan.
Kamu gak bakalan ngerjain saya kayak
waktu itu kan ?
Besok kamu cukup temanin saya ke salon
seharian.
Pesan itu saya baca tepat pada saat si
abang penjual sate mengantar pesanan saya dan selera makan saya pun mendadak
hilang. Memang semesta tidak pernah berpihak kepada saya.
Komentar
Posting Komentar