Alin
Sebelumnya, ada
beberapa hal yang ingin saya sampaikan terlebih dahulu. Pertama, kerjaan saya
lagi banyak-banyaknya, bahkan untuk makan siang di luar kantor sampai nggak ada
waktu. Kedua, udah seminggu ini saya dicuekin Alin, whatsapp saya nggak pernah
dibalas, telpon saya juga nggak pernah diangkat. Ketiga, saya uring-uringan
karna kangen Alin, dan masih banyak lagi hal-hal dapat merusak mood saya.
Saya kenal Alin udah
sejak 8 tahun yang lalu. Namun, kedekatan saya dengannya baru terjalin beberapa
bulan yang lalu. Semua itu berawal dari sebuah grup alumni sekolah yang kembali
mempertemukan saya dengan Alin. Mungkin apa yang dibilang teman-teman saya
benar bahwa grup alumni dapat dijadikan sebagai wadah untuk mencari jodoh. Berawal
dengan keisengan saya mengontak Alin secara pribadi dan mengajaknya ketemu
membuat saya dengannya semakin akrab.
Namun, entah kenapa
selama seminggu ini dia berubah. Alin seperti menghindari saya. Mulai dari
whatsapp saya yang dicuekin, sms saya yang nggak pernah dibalas, sampai telpon
saya yang didiemin. Sepagian ini saya udah berusaha mengontak Alin dan
mengajaknya ketemu tapi ia tetap menghindar. Saya sampai mulai kehabisan akal. Namun,
dipenghujung pengharapan saya akhirnya Alin menerima ajakan saya.
Ditengah jam kerja saya
yang padat dan sibuk-sibuknya, saya janjian dengan Alin untuk bertemu di sebuah
toko buku. Kenapa harus di toko buku, karna lokasinya nggak jauh dari kantor saya. Lalu, sebuah pesan whatsapp masuk.
Saya
udah di parkiran
Oke,
disebelah parkiran itu ada mbak-mbak jual soft drink, saya tunggu kamu disitu
Setelah perjuangan
panjang dan bersusah payah merayu Alin akhirnya saya bisa bertemu dengannya.
“Ada apa sih? Maksa banget
buat ketemuan siang ini,”
“Gini, Lin. Waktu saya Cuma
tersisa 10 menit lagi tolong kamu jawab pertanyaan saya dengan sebaik mungkin
ya,”
Dia bingung. Namun,
pada akhirnya menjawab, “oke,”
“Kamu masih ingat nggak,
minggu lalu kamu pernah nanyain pendapat saya definisi teman menurut saya
seperti apa?”
Dia mengangguk
menandakan bahwa ia masih mengingatnya.
“Lalu kamu masih ingat
nggak apa jawaban saya?”
“Masih,”
“Trus kamu nanya lagi
kalo kita ini sebenarnya apa,”
Dia langsung bersiap
untuk meninggalkan saya. Namun, saya nggak kalah cepat untuk menahannya.
“Jangan pergi dulu
dong, Lin. Waktu saya masih nyisa 7 menit lagi nih,”
Baiklah, dia duduk
kembali.
“Sebenarnya saya nggak
ngerti ngambeknya kamu ini karna tersinggung dengan jawaban saya minggu lalu
atau karna saya beliin kamu coklat. Jujur aja saya lupa kalau kamu alergi
dengan makanan yang satu itu. Tapi, seminggu dicuekin, saya jadi kangen kamu,
Lin,”
“Langsung ke intinya
aja deh katanya kamu nggak punya banyak waktu,”
“Oke, jadi gini, Lin. Minggu
lalu saya bilang kalau kita ini Cuma teman, tapi setelah saya pikir-pikir saya
pengen kita nggak Cuma sekedar teman. Saya pengen kita menjadi teman bahagia
kayak lagunya anak-anak millennial,”
“Maksud kamu?”
“Kita pacaran aja yuk,
Lin. Mau nggak?”
Dia tersenyum. Lalu, “kamu
kayak abege aja,”
“Dijawab dong, Lin,”
Dia diam. Seolah ingin memberikan jeda. Kemudian, dia
mengangguk sambil tersenyum.
Entah semesta sedang mendukung atau hanya sebuah kebetulan, saya
memeluknya dengan diiringi sebuah lagu dari pengeras suara milik mbak-mbak
penjual soft drink.
Percaya
aku takkan kemana mana
Aku
akan selalu ada
Temani
hingga hari tua
Percaya
aku takkan kemana mana
Setia
akan kujaga
Kita
teman bahagia

Komentar
Posting Komentar