Salah Paham
Banyak
yang bilang pertengakaran dalam sebuah hubungan itu suatu hal yang biasa.
Justru itu malah akan mempererat hubungan. Tapi hal itu mungkin tak berlaku
pada hubungan saya. pertengkaran mungkin akan memperburuk hubungan saya yang sudah
buruk ini. Jika kaum lelaki sering mengatakan ketika mereka marah pada
wanitanya justru malah wanita tersebut yang akan balik marah kepadanya dan
semua lelaki harus pasrah untuk meminta maaf pada akhirnya, hal itu juga tak
akan berlaku pada hubungan saya. sebuah kalimat hinaan yang terlontar dari
mulut seorang lelaki yang sangat saya cintai itu sangat menusuk perasaan saya.
tapi, demi menyelamatkan hubungan ini biarlah dia berkata seperti itu. saya
hanya tak ingin memperkeruh keadaan.
Pekanbaru
diguyur hujan deras sejak pukul 6 sore pada waktu itu dan jam keberangkatan
saya juga hanya tinggal hitungan jam. Tepat pukul 8 pagi esok hari saya sudah
harus meninggalkan kota Pekanbaru yang telah menyisakan banyak hal dan juga
kenangan. Dan, 5 menit pertemuan saya dengannya di malam sebelum keberangkatan
merupakan waktu paling tersial dalam hubungan saya. ya, pertemuan saya dengan
seorang lelaki yang saya cintai.
Saya
menyadari semua ini adalah kecerobohan dan kebodohan saya. saya juga mengerti
dengan perasaannya. Hati laki-laki mana yang tidak sakit hati ketika berusaha
menerjang hujan demi menemui kekasihnya untuk terakhir kali sebelum
keberangkatan tetapi yang didapat malah ia melihat kekasihnya berduaan dengan
lelaki lain dan tak menyadari kedatangannya.
“ohh,
pantesan saja telpon saya gak diangkat whatsap juga gak dibalas,”
“saya
bisa jelasin semua ini sama kamu,”
Dia
hanya membalas jawaban saya dengan diam.
“handphone
saya lagi dicas dan hujan deras jadi saya gak dengar kalau kamu nelpon dan
laki-laki yang didalam itu salah satu orang terdekat saya yang memang belum
sempat saya kenalin ke kamu,”
“semua
yang kamu jelasin itu, bagian mana yang harus saya percayai ?”
Oke,
sepertinya ia satu tingkat lebih marah saat ini.
“gimana
kalau kita masuk dulu dan saya buatkan kamu teh hangat ?”
Kali
ini ia menyalakan motornya dan pergi.
Jadi
inikah yang namanya pertengkaran yang dapat mempererat sebuah hubungan ?
baiklah, saya ingin membuktikannya.
Sudah
beberapa hari ini saya selalu mencoba menghubunginya dan meminta maaf tapi
jawaban dari kekasih saya itu masih saja datar dan selalu menjawab dengan
jawaban yang sama. Kali ini saya mengakui kesalahan saya dan ia makin marah.
“hai,
kamu lagi apa ?”
“ya
lagi nelpon lah,” jawab seorang lelaki diujung telpon.
Sial.
Dengan situasi yang memanas dan amarahnya yang tak berhenti saja, suaranya
masih menjadi favorit saya.
“apa
marahmu sudah reda ?”
“menurutmu
?”
“maafin
saya atas semua kekacauan ini. Maafin saya yang udah kecewain kamu,”
“iya,
baiklah,” lalu ia menutup telpon nya.
Setelah
semua usaha yang saya lakukan, ingin sekali saya tegaskan padanya sekarang ini 'maumu apa ? kamu mau kita berakhir sampai disini ?' ahh, mana mungkin saya
berani mengutarakan hal itu.
Oke,
sekarang saya terpikirkan sebuah hal. Mengirim surat cinta. Tapi, bagaimana
dengan telpon, sms, whatsap, line, bbm dan segala macamnya ? Perlu kalian tau,
kalau saja hal itu mempan saat ini saya udah mesra kembali dengan kekasih saya
itu. jangan kalian tanyakan bagaimana saya menuliskan surat cinta untuknya.
Perkara yang satu itu biarkan menjadi urusan saya meski saya payah dalam hal
merangkai kata.
Dear,
kekasih…
Saat
ini ingin sekali saya menemuimu. Menggenggam tanganmu dan meredakan amarahmu.
Membicarakan tentang malam itu dan kelanjutan hubungan kita. semua ini hanya tentang
kesalahpahaman dan kecerobohan saya. semesta memang sepertinya sedang tak
berpihak pada saya, pada kamu, pada kita, dan pada hubungan ini. Mulai dari
hujan deras yang tak kunjung berhenti, telponmu yang terabaikan oleh saya dan
seorang lelaki yang menambah kecurigaanmu. Baiklah, saya ralat kalimat
sebelumnya. Sepertinya semesta hanya tak berpihak pada saya hingga membuat
kecurigaanmu semakin jelas.
Kekasih,
semua yang terjadi pada kita diluar dugaan saya. diluar kendali saya. dibalik
amarahmu saya selalu mencoba mengalah. Tidak membalas perkataanmu. Menuruti
semua kemauanmu. Cemburumu memang merepotkan tapi sekali lagi, saya mencoba
mengalah. Saya merindukanmu. Merindukan kita. bersamamu, saya bahagia, berada
disisimu, hidup saya lengkap sudah.
Kekasih,
sudah reda kah amarahmu saat ini ? masih adakah rindu di hatimu untuk saya ?
masih bisakah saya berbagi canda tawa denganmu ? masih bisakah saya menjadi
alasan kebahagiaanmu ? maafkan saya yang telah membuatmu kecewa. Kekecewaan
yang saya perbuat memang terlalu menyakitkan untukmu. Dan, saya ingin bertanya,
apakah masih ada kata maaf itu untuk si ceroboh ini ?
Ditulis
dari hati dengan penuh cinta,
Perempuanmu.
seperti mengenal kisah ini, 😊🙏
BalasHapus