(Bukan) Surat Cinta Untuk Kekasih

“jam 12 siang di kafe biasa,”

Begitu suara seorang perempuan diujung sana begitu saya menjawab telpon nya.

Begitu tepat jam 12 siang saya keluar kantor dan langsung menuju ke sebuah kafe yang telah dijanjikan. Sepertinya saya sudah telat 15 menit. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah seorang perempuan yang sekarang berada dihadapan saya. perempuan yang satu ini sungguh kurang hajar bahkan ketika menampilkan tampang cemberut nya ia masih saja menggemaskan.

“kemarin kamu kemana aja ?”

“maaf saya sibuk banget kemarin,”

“kenapa gak jawab telpon aku ?”

“handphone saya silent jadi gak tau kalau kamu nelpon,”

“kenapa gak nelpon balik ? watsap aku juga kenapa gak dibalas ?”

Oke, saya mulai paham arah pembicaraan ini akan kemana. Saya memutuskan untuk diam saja dan membiarkannya memuntahkan segala amarahnya. Selagi saya masih bisa melihat wajah cantiknya, tak masalah jika sepanjang siang ini dia memarahi saya. Ya. Itulah pacar saya si tukang ngambek.

“iya, maafin saya,”

“aku gak minta kamu untuk minta maaf”

“oke, saya pesan makanan dulu. Kamu mau makan apa biar saya pesanin”

Belum sempat saya memesan makanan untuk nya, pacar saya si tukang ngambek itu berlalu pergi meninggalkan saya. Kadang saya gak ngerti kenapa perkara cinta harus serumit ini. Hanya karna nggak menjawab telponnya saya ditinggalin begitu aja dengan sejuta kengambekannya.

Dulu pernah sekali saya meladeni kemarahan pacar saya ini bukannya baikan malah hubungan saya dengan dia semakin rumit.

“kamu lama banget jemputnya”

“maaf sayang tadi di jalan macet,”

“kalau tau disana macet kenapa harus lewat sana sih, kamu kan bisa cari jalan lain,”

“ya mana sana tau kalau disana akan macet,”

“alasan! Kamu pasti ketemu sama cewek lain dulu kan ?”

“kenapa saya harus temui cewek lain kalau kamu yang udah jadi prioritas saya,”

“kalau aku prioritas kenapa masih datangnya telat,”

Nah, ini nih hal lain yang buat saya gak pernah bisa ngerti dengan perempuan.. Permasalahan yang menurut saya tak perlu untuk dibesar-besarkan menjadi suatu masalah yang sangat besar bagi pacar saya.


Tak lama setelah ia pergi, saya segera menulis sesuatu pada secarik kertas. Mungkin ini cara klasik tapi banyak yang bilang mengirim surat cinta sebuah hal yang romantis. Demi mendapat predikat pacar yang romantis dan lelaki pejuang, saya langsung menghubungi salah seorang temannya yang akan saya tugaskan menjadi tukang pos cinta saya. wahai, pacar saya yang cantik namun tukang ngambek, saya hanya tak menjawab telponmu kemarin bukan melupakanmu. Untuk mendapatkan senyummu kembali saja saya harus melawan kemacetan di siang hari yang terik. Ditambah lagi dimarahin oleh satpam kampusmu yang galak Cuma karna saya salah memarkirkan kendaraan. Belum lagi harus menghadapi kemarahan boss saya karna telat balik ke kantor. Tapi, semua itu terbayar setelah saya bertemu dengan seorang perempuan yang sudah lama tak berjumpa. Temanmu yang tak kalah cantiknya denganmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus