Hati yang Masih Saja Sendiri

Seorang teman pernah bertanya, bagaimana bisa aku bertahan cukup lama dengan hati yg masih saja betah sendiri. Meringkuk sendiri melawan sepi. Memeriahkan kesepian dengan sepi itu sendiri. kadang aku berpikir, jawaban yang bagaimana yang harus diberikan dengan aku sendiri tak tau bagaimana harus menjawabnya. Mereka selalu mengatakan keinginanku terlalu tinggi akan sesosok lelaki. Aku bahkan tak pernah memikirkan akan seperti apa seseorang yang hatinya ingin aku singgahi. hanya saja aku belum menemukan seseorang yang mampu membuatku kembali percaya bahwa cinta tak akan sesakit ini.
Cinta. Aku sempat merutuki satu kata itu. Satu kata yang mampu membuat siapapun tunduk akan kekuasaannya. Sudah lama aku tidak berurusan dengan yang namanya cinta. Aku pernah mencintai, menggantungkan harapan kepadanya. Namun, akhirnya dikhianati. Ia menjanjikan kisah ini akan selamanya. Lalu, aku sadar, ‘selamanya’ yang sebenarnya ialah hingga ia menemukan seseorang yang menurutnya lebih baik. Ia memilih pergi dan berlalu. Berbahagia diatas luka yang digoreskannya.
Banyak orang mengatakan obat terbaik dari patah hati ialah dengan kembali jatuh cinta. Bagaimana mungkin aku bisa kembali menjatuhkan hati sedangkan sebagian hatiku masih menjadi miliknya. Aku memang seseorang yang terlalu mudah untuk menjatuhkan hati, namun aku juga sulit untuk bangkit kembali ketika hati yang kumiliki dipatahkan. Dan, ya, saat ini aku sedang kesulitan untuk bangkit kembali.

Persetan dengan mereka yang mengatakan aku menyedihkan. Memilih sendiri melawan sepi, melupakan sakit hati dengan meringkuk kesepian. Aku hanya memilih untuk tidak terlalu dini menjatuhkan hati. mengikhlaskan yang telah pergi. 

Friska Baizura

Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus