Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Finished Love

Ujian Nasional sedang berlangsung dan hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan ujian. Jauh sebelum pelaksanaan Ujian Nasional dimulai aku sangat bersemangat menantikan ujian tersebut karena aku sudah tidak sabar untuk menyandang status sebagai mahasiswa. Tapi, entah kenapa pada saat itu tiba aku sangat berharap waktu bisa berputar lebih lambat karena aku merasa ingin lebih lama lagi di sekolah ini, aku masih belum ingin untuk berpisah dengan teman-temanku, dan aku juga tak ingin berpisah dengan Jery, sosok yang setahun belakangan ini selalu mengganggu pikiranku. Dia adalah teman sekelasku. Aku menyebutnya lelaki dengan senyum gingsul. Aku tak tau bagaimana awalnya aku bisa menyukainya perasaanku seolah mengalir begitu saja. Pada awalnya aku tak pernah menghiraukan bahkan memperhatikannya sampai pada saat Nia, salah satu temanku berkata bahwa ia menyukaiku. Aku tak mempercayai perkataannya terlebih lagi tak sedikit perempuan yang mengaguminya. Tetapi, Nia, temanku tetap yakin bah...

Si Puyun Part 2

Kalau sebelumnya gue pernah cerita teman gue si Puyun udah menemukan tambatan hatinya, sekarang hatinya kembali pada siklus kegalauan. Kali ini ceritanya beda, dia bukan diselingkuhin atau diduakan. Ini masalah serius. Seserius bapak-bapak yang lagi mengamati batu akik asli apa palsu. Hatinya benar-benar sangat terpuruk saat ini, kegalauan hatinya sangat jauh berbeda waktu dia diselingkuhin. Gue khawatir, teman-teman kuliah, teman kosan juga pada khawatir bahkan ibu kosnya juga khawatir. Khawatir kalau dia gak bayar uang kos-kosan bulan depan -_- Sebenarnya berat banget buat gue untuk ceritain penyebab kegalauannya si Puyun. Tapi ya gimana gue emang orangnya tegaan sih buat buka aib teman sendiri dimana-mana. Oke, orang kayak gue emang gak pentes dijadiin teman tapi jadiin pasangan hidup. Tsaah. Kegalauan si Puyun ini menurut gue emang wajar karna lagi-lagi dia ditinggalkan. Emang gak ada hal yang lebih menyedihkan selain ditinggalkan orang yang disayang. *abaikan yang barusan. Si...

Karma

Mendapati kabar tentang hubunganmu dengannya telah berakhir, aku tak tau apa aku harus bahagia atau bersedih karena sejujurnya rasa ini masih ada. Jujur saja, disatu sisi aku bahagia  karena aku tak perlu repot-repot untuk membalas perbuatanmu. Tapi, aku juga sedih terlebih kasihan karena sepertinya kau terlihat lebih rapuh dari apa yang aku bayangkan. Kau tak perlu menanyakan bagaimana sakitnya pengkhianatan karena telah kau temukan sendiri jawabannya. Kau juga tak perlu menanyakan bagaimana perihnya karena saat ini perih itu menjadi milikmu. Tenang saja, aku tak akan menertawakan keadaanmu saat ini tapi ada satu hal yang harus kau ingat, aku bukan lagi seseorang yang akan selalu ada untukmu.

Mencintai Dalam Diam

Hari itu, hari dimana pertama kalinya aku menyandang status sebagai mahasiswi. Rangkaian kegiatan ospek di hari pertama sudah cukup membuatku sangat jenuh. Mendengar celotehan para senior dan instruksi-instruksi menyebalkan dari mereka. Tetapi, di tengah kejenuhan itu, aku menemukan sosokmu. Seorang lelaki berkulit putih dan berkumis tipis. Saat itu kau berdiri di pojok kanan, satu barisan lebih depan dariku. Kau terlihat sama jenuhnya denganku. Ternyata bukan hanya aku yang jenuh dengan kegiatan yang sangat membosankan ini. Sejak aku menemukan sosokmu, aku tak hentinya memandangmu dari kejauhan, memperhatikan tingkah lakumu dan caramu berkenalan dengan orang-orang di sekitarmu. Hari berikutnya aku menjadi lebih bersemangat untuk menjalani kegiatan ospek karena melalui kegiatan ini aku kembali dapat melihat sosokmu dan memperhatikanmu dari kejauhan. Pada hari terakhir kegiatan ospek, aku berharap kegiatan ini bisa berlangsung lebih lama agar aku dapat melihatmu juga lebih lama. Ad...

Perkenalan

Aku dan seorang temanku sedang berada di sebuah kafe. Setelah menghabiskan makanan yang kami pesan, kami pun sibuk membuka laptop masing-masing. Temanku, Lisa sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Sama seperti Lisa, aku juga sedang mengerjakan tugas kuliahku sambil sesekali mengecek social media. Ya, aku salah satu orang yang tak bisa lepas dari social media. Sembari Lisa sibuk dengan laptopnya, sesekali aku melihat situasi sekitar ruangan tersebut. Ruangan tersebut sepi hanya ada aku, Lisa dan beberapa pengunjung lainnya. Jauh di depanku, terdapat sebuah bar dimana para pramusaji sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan. Aku dan Lisa duduk di sudut ruangan kafe tersebut sehingga pandanganku dapat melihat seluruh ruangan tersebut. Di meja sebelahku ada seorang lelaki yang sibuk dengan gadget-nya. Dia seperti sedang menunggu seseorang dan menghubunginya untuk segera datang. Beberapa kali aku mencuri pandang kepadanya tetapi ia masih saja sibuk dengan gadget-nya sampai pada akhirnya pand...