Obrolan Nostalgia

kenangan




Kembali ke kota yang menyimpan banyak kenangan memang memberikan sensasi yang berbeda. Setiap sudut kota seolah bercerita. Di mulai dari bandara sebagai tempat pertemuan dan perpisahan. Setiap jalanan yang pernah dilalui bersama hingga pengamen jalanan yang menyanyikan lagu-lagu patah hati dengan nada dan petikan gitarnya yang tidak serasi.

Sesaat setelah mengambil ransel dan koper, saya kembali menyalakan henpon yang semula diubah ke dalam mode flight. Beberapa pesan watsap bermunculan. Mulai dari grup kantor yang sudah pasti dibuat khusus untuk sesama rekan kerja saja tanpa adanya boss, grup alumni, hingga pesan dari seseorang yang menjadikan alasan saya untuk kembali ke kota ini.

Besok jangan lupa datang yaa

Sebuah pesan darinya.

Pasti. Saya tidak akan pernah lupa kalau itu soal kamu. Balas saya.

Menaiki taksi dari bandara menuju rumah, seolah membuat saya sedang melakukan napak tilas. Setiap jengkal kota seolah menceritakan seorang Nayla, perempuan yang selalu menjadi alasan saya pulang. Setiap ruasnya menceritakan saya dan Nayla mulai dari awal pendekatan hingga akhirnya berpacaran sampai saya harus meninggalkannya untuk bekerja keluar kota. Buat saya, Nayla itu luar biasa. Buat Nayla, saya biasa saja. Tapi, tetap saja saya yang memenangkan hatinya pada waktu itu.

Pada masa pendekatan, Nayla susah sekali untuk diajak jalan. Saya sampai harus memutar otak mencari ide agar dia mau menerima ajakan saya. Nayla juga kadang suka sekali membuat jantung saya seakan mau copot. Waktu itu, seberes kuliah dia mengabari saya kalau ia baru saja mengalami kecelakaan.

Nay, di mana ?. saya mengirimkan sebuah pesan untuknya.

Aku di klinik

Klinik kecantikan ? kamu udah cantik, Nay gak perlu dipermak lagi saya udah sayang

Aku abis kecelakaan :(

Balasannya tentu saja membuat saya panik dan langsung menelponnya. Namun, sampai deringan terakhir Nayla tidak menjawab telpon saya. Saya mencoba menelponnya sekali lagi dan malah di reject. Lalu, sebuah pesan masuk ke henpon saya.

Aku lagi diobati dan nggak mau ngomong sama kamu

Yealah, Nay lagi sakit masih aja ngegas.

Okay, siap. Are you okay ? apanya yang sakit, Nay ?

Tangan sama kaki aku doang yang luka

Parah nggak ? masih bisa jalan ?

Jalan bisa kok

Yaudah, ayuk, Nay kebetulan besok saya free

RANDI GILAAAA!!! AKU LUKA-LUKA GINI MASIH AJA MODUS. NYARI KESEMPATAN
***
Memasuki kawasan Sudirman dan melewati lapangan Mtq, kembali membuat saya teringat akan Nayla. Hmm, saya menjadi semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya. Pada waktu itu, saat saya sudah resmi berpacaran dengan Nayla, tepat di akhir bulan, keuangan sedang miris-mirisnya dan Nayla sedang bawel-bawelnya merengek untuk diajakin jalan.

Setibanya saya di kos-kosannya, Nayla keluar dari kamar kosnya dengan penampilan yang sudah rapi.

“Kita nongkrong di kosan kamu aja ya,” kata saya lembut berharap Nayla mengiyakan.

“Nggak mau. Aku maunya jalan,”

“Minggu depan deh. Janji,” masih mencoba nego.

“Aku maunya sekarang,”

“Yaudah, besok ya,”

Bibir Nayla makin maju saja mendengar jawaban saya barusan. Nayla yang manyun dan ngambek semakin menggemaskan saja.

“Aku kesel sama Randi!!”

Okay, kalau Nayla sudah mengeluarkan kalimat pamungkasnya pertanda bahwa ia sudah tidak bisa dibantah.

“Yaudah, ambil helm sama jaket kamu. Pakai jaket. Kalau ngebantah saya pulang,” saya sengaja menegaskan Nayla untuk memakai jaketnya karna yang sudah-sudah dia selalu mengeluh kedinginan.

Sambil menjalankan motor, saya bertanya pada Nayla.

“Kita mau kemana, Nay ?”

“Nggak tau. Terserah. Pokoknya jalan,”

Tipikal wanita.

Saya terus menjalankan motor saya sambil mendengarkan Nayla berceloteh sepanjang jalan. Keluar dari kawasan panam, melewati jalan Soekarno-Hatta, lalu memasuki daerah Arifin Ahmad.

“Randi, aku pengen jagung,”

“Hmm, iyaa,” jawab saya malas tapi tetap saja melajukan motor saya menuju tempat yang diinginkan Nayla.

Setelah puas dengan segala keinginannya, Nayla kembali berceloteh.

“Randi, kamu tau nggak kenapa tempat ini dinamakan Lapangan Mtq ?”

“Nggak tau, Nay,” jawab saya cuek.

“Trus kenapa banyak orang-orang yang jualan jagung ya, padahal kan bisa aja mereka jualan somay, bakso, seblak atau yang lainnya,”

TERSERAH ELU, NAYLA!!!

“Jawab dong, Ran kan aku nanya,”

“Saya nggak tau, Nayla,”

“Kamu tuh apa-apa nggak tau. Yang kamu tau apa sih ?”

“Yang saya tau Nayla kesayangannya Randi,”
***
Pekanbaru di malam minggu memang tidak ada romantis-romantisnya. Kendaraan berlalu lalang yang membuat kebisingan, pasangan muda-mudi yang saling berboncengan, dan kemacetan yang tak jelas apa penyebabnya. Kota ini terlihat berbeda dari terakhir kali saya meninggalkannya. Setiap mengingatnya, membuat saya benci tapi juga kangen. Namun, akhirnya saya pulang untuk seseorang.

Di tengah kejenuhan saya menghadapi jalanan di kota ini, sebuah lagu terputar dari pengeras suara pada taksi yang saya tumpangi. Lagu yang pernah saya kirimkan ke Nayla dikala ia meragukan saya.

Tak akan ada cinta yang lain

Pastinya cintaku hanya untuk mu

Pernahkah terbersit olehmu

Aku pun takut kehilangan

Dirimu

Disela-sela saya meresapi lirik lagu tersebut, ingatan saya kembali pada Nayla. Pada saat awal saya bekerja di luar kota dan mengharuskan saya menjalani hubungan jarak jauh dengannya, saya selalu meyakinkannya bahwa saya tidak akan tergoda oleh perempuan lain dan saya akan selalu setia. Namun, Nayla ya tetap lah Nayla. Sok cuek tapi cemburuan. Bawel tapi juga menggemaskan.

Seusai bekerja saya menyempatkan untuk melakukan panggilan telpon dengannya. Setelah seharian saya dicuekin karena sudah membatalkan kepulangan.

“Hay, Nay”

“Hmm,” Jawabnya yang masih ogah menunjukkan wajahnya.

“Lagi apa ?”

“video call sama pacar,” masih dengan nada juteknya.

Saya hanya bisa tertawa menanggapi jawaban Nayla dan ia masih saja jutekin saya.

“Nay, kamu paham konsep kangen nggak sih ?”

“Ya tau lah. Ngomong kangen mulu tapi ketemunya wacana doang. Ngomong pengen pulang tapi nggak jadi mulu,”

Nayla yang ngambek memang berbahaya.

“Saya masih banyak kerjaan, Nay. Saya usahakan pekerjaan ini cepat selesai,”

“Aku pengen ketemu,”

“Iya, sabar ya, Nay. Begitu kerjaan yang ini beres saya langsung booking tiket pulang trus kita ketemu. Kamu mau ke mana aja saya anterin. Saya temenin,”

“Tunjukin dong muka kamu, Nay saya ngerasa ngomong sama tembok nih,”

Saya nggak habis pikir kenapa merayu Nayla yang ngambek sesusah ini. Perkara saya yang nggak jadi pulang saja sudah begini, bagaimana dengan yang lainnya?. Setelah berkali-kali saya merayu akhirnya Nayla luluh juga.

“Nah, gitu dong mukanya keliatan,”

“Siapa suruh batal pulang,”

Masih saja dibahas.

“Eh, Nay, coba hapenya dideketin ke jidat kamu deh,” pinta saya sambil tersenyum licik. Beruntung Nayla nurut saja.

“Nih, udah,”

“Closer, Nay,”

“Apaan sih,” walau protes Nayla tetap mengikuti perintah saya.

“Okay, enough. Muuaaaah. Udah ya jangan ngambek lagi,”

“Randi ngeselin! Aku jadi makin kangeeen!” teriaknya.

***
Sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, hari ini saya akan menemui Nayla. Pertemuan kali ini sangat berbeda. Tidak seperti pertemuan yang sebelum-sebelumnya. Di pertemuan kali ini, saya yakin Nayla masih terlihat sama seperti sebelumnya. Masih tetap cantik mungkin hari ini akan terlihat luar biasa.

Saya menyalakan motor dan melajukan kendaraan tersebut ke sebuah hotel di jalan sudirman. Memarkirkannya dan masuk menuju ballroom hotel tersebut. Saat sampai, ballroom hotel yang begitu luas tersebut sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berlalu lalang dan beberapa lagu romantis dinyanyikan. Pandangan saya menatap lurus ke ujung ruangan di mana Nayla berada. Dugaan saya juga tidak salah, Nayla terlihat luar biasa. Saya terus berjalan untuk mendekatinya. Saat berada di depannya, saya langsung menyalami Nayla.

“Gila ya, Nay 5 tahun kita pacaran akhirnya kita ketemu juga di pelaminan dengan kamu sebagai mempelai wanitanya dan saya sebagai tamu undangan,”




Komentar

Postingan populer dari blog ini

On the Phone

Perkenalan

Tipe-tipe Dosen di Kampus