Tetangga Baru
Entah
bagaimana lagi menolak pesona si tetangga baru ini. Sejak awal kepindahannya
tak pernah sekalipun saya bosan untuk memandangnya walau hanya dari kejauhan.
Walau hanya dari balik jendela kamar. Sejak sebulan lalu, seorang perempuan
baru saja pindah di depan rumah saya yang memang sudah kosong sejak lama. Namun,
belum pernah sekalipun berkenalan meski sesekali saling melemparkan senyum. Kata
tetangga saya yang lainnya dia bernama Naya. Naya itu cantik, bertubuh tinggi,
tidak begitu kurus juga tidak bisa dibilang gemuk. Bisa dibilang ia perempuan
dengan tubuh ideal. Dia seperti sosok perempuan yang hampir membuat otak semua
laki-laki straight berpikir yang bukan-bukan.
Naya,
si tetangga baru, selalu keluar rumah di
jam 8 pagi dan pulang jam 5 sore. Penampilannya selalu sempurna.
Berpakaian selayaknya pekerja kantoran, make up yang tidak menor bahkan bisa
dibilang natural. Dan, kalau hari libur, jika beruntung saya kadang dapat
melihat Naya keluar rumah hanya dengan celana super pendek dan kaos tanpa
lengan. Kali ini, Dewa pun kembali berpihak pada saya. Dari balik jendela
kamar, saya melihat si tetangga baru sedang mencuci mobilnya dengan kaos putih
longgar menerawang. Percikan air membuat tubuhnya basah dan makin menampilkan
lekuk tubuhnya. Semakin saya berusaha menghindar, semakin otak ini memutar
adegan Naya, si tetangga baru yang sedang mencuci mobil berulang kali.
Tanpa
sadar saya udah berada di teras rumah sambil memperhatikannya. Dan, dengan
kurang ajarnya Naya memamerkan senyumnya yang sekarang membuat panas dingin.
Lalu, entah siapa yang memulai, entah bagaimana awalnya si tetangga baru
sekarang berada dalam dekapan saya. Pandangan kami saling beradu dan saya pun
perlahan mendekati wajahnya. Saya merasakan degup jantung Naya berpacu sangat
cepat. Lembut. Bibir Naya yang selalu terlihat basah itu terasa lembut. Saya
pun memagut bibirnya tanpa ampun.
Naya
seolah tak protes, ia malah mengalungkan lengannya di leher saya. Sial. Dia
baru saja membuat saya hilang kendali. Saya merapatkan tubuh Naya pada mobilnya
tanpa sekalipun melepaskan pagutan pada bibirnya. Naya menggerakkan bibirnya
bahkan menuntut saya untuk melakukan hal yang sama. Saya pun seolah tak mau
kalah langsung saja melumat habis bibir Naya yang sedari tadi sudah menggila
menginginkannya. Brengsek! Dia makin membuat saya hilang kendali. Ternyata dia
lebih agresif dari yang saya pikirkan. Kami terengah. Saya melepaskan pagutan
dari bibirnya memberi jeda lalu kembali menciumnya dan melumat habis bibirnya
semakin menuntut. Namun, satu deringan telpon yang sangat keras membuat saya kaget dan tersadar.
Sial! Ternyata Cuma mimpi.

Komentar
Posting Komentar